🚫 *Bidah-Bidah Seputar Al Quran (1)*
1️⃣ *Menyewa orang untuk membaca Al Qur'an di kuburan*
*Syaikh ibnu 'Utsaimin ditanya*
*tentang menyewa orang untuk membaca Al Qur'an untuk*! *dihadiahkan kepada ruh mayat.*
▶️ *Jawab:*
_Ini termasuk bid'ah, dan tidak berpahala baik untuk pembaca maupun untuk mayit. Karena pembaca mengharapkan dunia (upah) saja, dan setiap amal shalih yang bertujuan untuk meraih dunia, maka tidak mendekatkan kepada Allah dan tidak diberikan pahala, maka perbuatan ini hanyalah menyia-nyiakan harta ahli waris, dan hendaknya dijauhi karena ia adalah bid'ah yang munkar._
_(Majmu' fatawa wa rasa-il syaikh Muhamad bin Shalih al 'Utsaimin 2/304)_📕
•••
🚫 *Bidah-Bidah Seputar Al Quran (2)*
2️⃣ *Membiasakan Membuka Acara dengan Al Qur'an*
▶️ *Syaikh ibnu 'Utsaimin ditanya: Membuka acara-acara dengan membaca Al Qur'an apakah termasuk disyari'atkan?*
🎙 *Jawab:*
_Aku tidak mengetahui adanya sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam hal ini. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam seringkali mengumpulkan para shahabat untuk perang atau untuk perkara-perkara yang penting, namun beliau tidak membukanya dengan membaca Al Qur'an._
_Akan tetapi apabila acara tersebut membahas tema tertentu, lalu seseorang membaca ayat-ayat yang berhubungan dengan tema tersebut, maka tidak apa-apa._
▶️ _Adapun menjadikan membuka setiap acara dengan membaca Al Qur'an sebagai sebuah kebiasaan, seakan-akan ia adalah sunnah yang disyari'atkan, maka ini tidak boleh._
_(Nurun 'alad Darb, fatawa syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin hal 43)_📕
•••
🚫 *Bidah-Bidah Seputar Al Quran (3)*
3️⃣ *Mencium Mushaf*
*Komite fatwa* *KSA*(Lajnah Daaimah)**ditanya:*
_Kami melihat sebagian ikhwah ketika selesai membaca Al Qur'an, ia mencium mushaf, dan mengusap dua mata dan wajahnya, apakah ada dalam syari'at?_
🎙 *Jawab:*
_Alhamdulillah washalatu wasalaamu 'alaa rasulillah.._
_Kami tidak mengetahui adanya asal dalam syari'at yang suci ini._
_(Fatwa no. 1472)_📗
•••
🚫 *Bidah-Bidah Seputar Al Quran (4)*
4️⃣ *Berusaha untuk mengikuti suara seorang qari*
📕 _Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya (no. 4835), bahwa Mu'awiyah bin Qurrah berkata:_
_"Kalau aku mau, aku akan menghikayatkan untuk kalian bacaan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam"._
📗 _Dalam riwayat Tirmidzi,_ _Mu'awiyah berkata:_
_”Kalau bukan karena khawatir orang-orang berkumpul mengerumuniku, aku akan menirukan suara (lagu) beliau Shallallahu 'alaihi wasallam"._
🎙 _Syaikh Bakr Abu Zaid_ _rahimahullah berkata: _
_"Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun shahabat yang mengikuti lagu bacaan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, kalaulah itu biasa mereka lakukan, tentu Mu'awiyah tidak perlu khawatir manusia mengerumuninya. Jadi tidak boleh kita mengikuti (lagu) suara bacaan seseorang, karena itu bukan petunjuk para shahabat dan generasi setelahnya._
_Dan aku telah meneliti kitab-kitab sejarah, dan biografi, aku tidak pernah melihat para qari saling mengikuti lagu suara qari lain dari generasi ke generasi.._
_(Tashhiihud du'a karya Syaikh Bakr Abu Zaid hal 303)_📗
وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟ “Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).
Klick
April 04, 2019
Cara Mengetahui Aqidah Ahlus Sunah
*Cara Mengetahui Aqidah Ahlus Sunah
Bagaimana cara kita sebagai orang awam dalam memahami aqidah? Sementara tidak semua kita berkesempatan untuk belajar ke seorang ustad ahlus sunah. mohon bimbingannya.
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Manusia dilahirkan oleh ibunya dalam kondisi tidak tahu apapun.
Allah berfirman,
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا
“Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, dalam keadaan kalian tidak mengetahui apapun.” (QS. an-Nahl: 78).
Selanjutnya, secara bertahap kita mendapatkan berbagai informasi, sehingga kita mengenal orang di sekitar kita. Kita mengenal orang tua kita, mengenal suadara kita, dan kita meyakini bahwa mereka adalah keluarga kita. Selanjutnya informasi itu bertambah, sehingga kita mengenal mana kawan, mana lawan, baik buruk, benar salah.
Dan kita memahami bahwa realita di sekitar kita, ada yang bisa kita indera dan ada yang tidak bisa dijangkau dengan indera. Seperti adanya malaikat, adanya jin, di masa silam ada Nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan risalah, ada alam kubur, ada surga, ada neraka, kelak akan ada akhirat, dst.
*Keyakinan yang berkaitan dengan objek yang tidak terindera inilah yang sering diistilahkan dengan aqidah.*
Lalu dari mana kita bisa mengenal objek yang tidak terindera itu?
Ada tiga kemungkinan sumber:
[1] Dari akal dan logika, sehingga apa yang menurut logika kita benar, kita yakini sebagai aqidah.
[2] Dari perasaan, sehingga apa yang menurut perasaan kita benar, kita jadikan sebagai aqidah.
[3] Dari dalil, al-Quran dan Sunah. Sehingga apa yang disebutkan dalam dalil, itulah aqidah yang benar.
Tentu saja, dua jawaban pertama tidak benar, karena logika dan perasaan kita, tidak mampu menjangkau hal-hal ghaib yang hanya bisa diketahui melalui wahyu.
Kaum muslimin, kaum yahudi, nasrani, hindu, budha, konghuchu atau semua penganut ajaran agama, mereka memiliki logika dan perasaan yang seragam ketika dilahirkan. Karena apapun agamanya, mereka semua manusia, yang proses penciptaannya seragam.
Jika sumber aqidah dikembalikan kepada logika dan perasaan, seharusnya hasilnya memungkinkan untuk diseragamkan. Namun aqidah seorang muslim dengan aqidah orang kafir, apapun agamanya sangat jauh berbeda.
Karena itu, jawaban yang paling benar adalah pilihan yang ketiga, bahwa aqidah hanya mungkin bersumber dari al-Quran dan sunah.
*Cara Orang Awam Memahami Aqidah*
Bagaimana orang awam bisa memahami aqidah, sementara mereka memiliki keterbatasan dalam memahami al-Quran dan sunah?
Belajar adalah kata kuncinya. Mempelajari keterangan dan kesimpulan yang disampaikan para ulama.
Karena itulah, Nabi ﷺ mewajibkan setiap muslim untuk belajar, agar mereka bisa memiliki aqidah yang benar, dan semua cara beragamanya benar.
Nabi sﷺ bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Belajar ilmu agama adalah kewajiban setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah 224 dan dishahihkan al-Albani).
Prinsip yang Allah ajarkan dalam al-Quran, bahwa aqidah yang paling benar adalah aqidah para murid Nabi ﷺ, merekalah para sahabat.
Allah berfirman,
فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا
Jika mereka beriman seperti imannya kalian (wahai para sahabat) maka mereka akan mendapatkan petunjuk. (QS. al-Baqarah: 137).
Allah memberikan jaminan, bahwa orang yang mengikuti imannya para sahabat akan mendapatkan petunjuk yang benar. Berarti makna kebalikannya, siapa yang tidak mengikuti aqidahnya para sahabat maka mereka akan sesat. (Bada’I al-Fawaid, 4/964)
Alhamdulillah, banyak sekali ulama yang menulis buku-buku seputar masalah aqidah, dengan penjelasan yang sangat mudah untuk dipahami. Sehingga kaum muslimin yang awam sekalipun, mudah bagi dia untuk bisa memahaminya. Mereka bisa membaca kitab-kitab aqidah yang ditulis ulama salaf ahlus sunah, sehingga mereka yakin bahwa apa yang tertulis di buku itu adalah aqidah ahlus sunah.
Dr. Abdul Aziz ar-Rais menjelaskan,
لمعرفة مذهب السلف طرق من أهمها أن تنص كتب العقائد على أن هذا مذهب السلف كأبي عثمان الصابوني في هذا الكتاب يذكر اعتقاد السلف وابن بطة في الإبانة الكبرى والصغرى والآجري في الشريعة ابن تيمية في الواسطية
Untuk memahami madzhab (aqidah) salaf, ada beberapa cara. Yang paling penting adalah apa yang dinyatakan dalam kitab-kitab aqidah bahwa keterangan itu adalah aqidah salaf (sahabat). seperti kitabnya Abu Utsman as-Shabuni, dalam kitab aqidahnya beliau menyebutkan aqidah salaf, Ibnu Batthah dalam kitab al-Ibana al-Kubro dan as-Shughra, al-Ajurri dalam kitabnya as-Syariah, atau Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Aqidah al-Wasithiyah.
Beliau melanjutkan,
فالأصل فيما حكاه عالم معروف بمذهب السلف ونسبه إليهم أنه كذلك حتى يتبين خلافه فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقا وقد أمرنا أن نتبعهم فلابد أن ربنا قد حفظه لنا بجمع العلماء له.
Prinsipnya adalah apa yang dinyatakan oleh para ulama yang dia dikenal sebagai ulama ber-aqidah salaf, dan mereka menyebutnya sebagai aqidah salaf, maka itu adalah aqidah salaf. Karena aqidah salaf itu pasti benar, dan kita diperintahkan untuk mengikuti mereka. Sehingga Allah pasti menjaga aqidah ini untuk kita, dengan cara Allah ciptakan para ulama yang menulis aqidah itu. (Mukadimah li Dirasah Kutub I’tiqad, hlm. 8)
Alhamdulillah, ada banyak sekali kitab-kitab aqidah yang ditulis oleh para ulama ahlus sunah, dan sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Diantaranya,
[1]. Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, karya Imam Ismail bin Abdurachman Ash-Shabuni
Buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul: Aqidah Salaf Ashhabul Hadits
Diterbitkan: Gema Ilmu
[2]. Lum’atul I’tiqad, karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi
Buku ini diberi penjelasan oleh Imam Ibnu Utsaimin, dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Judul terjemah: Syarah Lum’atul I’tiqad Cara Mudah Memahami Nama Dan Sifat Allah
Diterbitkan: Media Hidayah
[3]. Aqidah al-Wasithiyah, Ibnu Taimiyah
Buku ini telah diberi penjelasan oleh Imam Ibnu Utsaimin dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Syarah Aqidah Wasithiyah Induk Akidah Islam.
Diterbitkan: Darul Haq
Kitabut Tauhid, karya Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi
Buku ini telah diterjemahkan dengan judul Kitab Tauhid, dan diterbitkan oleh banyak penerbit.
[4]. al-Qawaid al-Arba’, karya Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi
Duku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Syarah al-Qawa’id al-Arba’: 4 Kaidah Memahami Kemusyrikan. Ada banyak sekali ulama yang memberikan penjelasan untuk buku ini, diantaranya adalah Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsriy.
Tauhid 1, 2, dan 3, karya Dr. Soleh al-Fauzan dan tim penulis tauhid
Mukhtashar fi al-Aqidah, karya Dr. Khalid al-Musyaiqih
Buku ini sangat direkomendasikan, dan sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul, Buku Pintar Akidah. Diterbitkan oleh: Wafa Press
[5]. Khudz Aqidatak, karya Muhammad Bin Jamil Zainu.
Buku ini telah diterjemahkan dengan judul: Ambillah Aqidahmu Dari Al-Qur’an Dan As-Sunnah Shahih.
Sebaliknya, ada beberapa kitab yang membahas masalah aqidah, namun mayoritas sumbernya berasal dari klaim tanpa dalil atau dari hadis yang jelas palsu. Terutama *buku-buku aqidah yang ditulis oleh orang sufi dan memiliki penyimpangan dalam pemikiran. Karena mengikuti pengaruh ahli kalam.*
Demikian, Semoga bermanfaat
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Bagaimana cara kita sebagai orang awam dalam memahami aqidah? Sementara tidak semua kita berkesempatan untuk belajar ke seorang ustad ahlus sunah. mohon bimbingannya.
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Manusia dilahirkan oleh ibunya dalam kondisi tidak tahu apapun.
Allah berfirman,
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا
“Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, dalam keadaan kalian tidak mengetahui apapun.” (QS. an-Nahl: 78).
Selanjutnya, secara bertahap kita mendapatkan berbagai informasi, sehingga kita mengenal orang di sekitar kita. Kita mengenal orang tua kita, mengenal suadara kita, dan kita meyakini bahwa mereka adalah keluarga kita. Selanjutnya informasi itu bertambah, sehingga kita mengenal mana kawan, mana lawan, baik buruk, benar salah.
Dan kita memahami bahwa realita di sekitar kita, ada yang bisa kita indera dan ada yang tidak bisa dijangkau dengan indera. Seperti adanya malaikat, adanya jin, di masa silam ada Nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan risalah, ada alam kubur, ada surga, ada neraka, kelak akan ada akhirat, dst.
*Keyakinan yang berkaitan dengan objek yang tidak terindera inilah yang sering diistilahkan dengan aqidah.*
Lalu dari mana kita bisa mengenal objek yang tidak terindera itu?
Ada tiga kemungkinan sumber:
[1] Dari akal dan logika, sehingga apa yang menurut logika kita benar, kita yakini sebagai aqidah.
[2] Dari perasaan, sehingga apa yang menurut perasaan kita benar, kita jadikan sebagai aqidah.
[3] Dari dalil, al-Quran dan Sunah. Sehingga apa yang disebutkan dalam dalil, itulah aqidah yang benar.
Tentu saja, dua jawaban pertama tidak benar, karena logika dan perasaan kita, tidak mampu menjangkau hal-hal ghaib yang hanya bisa diketahui melalui wahyu.
Kaum muslimin, kaum yahudi, nasrani, hindu, budha, konghuchu atau semua penganut ajaran agama, mereka memiliki logika dan perasaan yang seragam ketika dilahirkan. Karena apapun agamanya, mereka semua manusia, yang proses penciptaannya seragam.
Jika sumber aqidah dikembalikan kepada logika dan perasaan, seharusnya hasilnya memungkinkan untuk diseragamkan. Namun aqidah seorang muslim dengan aqidah orang kafir, apapun agamanya sangat jauh berbeda.
Karena itu, jawaban yang paling benar adalah pilihan yang ketiga, bahwa aqidah hanya mungkin bersumber dari al-Quran dan sunah.
*Cara Orang Awam Memahami Aqidah*
Bagaimana orang awam bisa memahami aqidah, sementara mereka memiliki keterbatasan dalam memahami al-Quran dan sunah?
Belajar adalah kata kuncinya. Mempelajari keterangan dan kesimpulan yang disampaikan para ulama.
Karena itulah, Nabi ﷺ mewajibkan setiap muslim untuk belajar, agar mereka bisa memiliki aqidah yang benar, dan semua cara beragamanya benar.
Nabi sﷺ bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Belajar ilmu agama adalah kewajiban setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah 224 dan dishahihkan al-Albani).
Prinsip yang Allah ajarkan dalam al-Quran, bahwa aqidah yang paling benar adalah aqidah para murid Nabi ﷺ, merekalah para sahabat.
Allah berfirman,
فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا
Jika mereka beriman seperti imannya kalian (wahai para sahabat) maka mereka akan mendapatkan petunjuk. (QS. al-Baqarah: 137).
Allah memberikan jaminan, bahwa orang yang mengikuti imannya para sahabat akan mendapatkan petunjuk yang benar. Berarti makna kebalikannya, siapa yang tidak mengikuti aqidahnya para sahabat maka mereka akan sesat. (Bada’I al-Fawaid, 4/964)
Alhamdulillah, banyak sekali ulama yang menulis buku-buku seputar masalah aqidah, dengan penjelasan yang sangat mudah untuk dipahami. Sehingga kaum muslimin yang awam sekalipun, mudah bagi dia untuk bisa memahaminya. Mereka bisa membaca kitab-kitab aqidah yang ditulis ulama salaf ahlus sunah, sehingga mereka yakin bahwa apa yang tertulis di buku itu adalah aqidah ahlus sunah.
Dr. Abdul Aziz ar-Rais menjelaskan,
لمعرفة مذهب السلف طرق من أهمها أن تنص كتب العقائد على أن هذا مذهب السلف كأبي عثمان الصابوني في هذا الكتاب يذكر اعتقاد السلف وابن بطة في الإبانة الكبرى والصغرى والآجري في الشريعة ابن تيمية في الواسطية
Untuk memahami madzhab (aqidah) salaf, ada beberapa cara. Yang paling penting adalah apa yang dinyatakan dalam kitab-kitab aqidah bahwa keterangan itu adalah aqidah salaf (sahabat). seperti kitabnya Abu Utsman as-Shabuni, dalam kitab aqidahnya beliau menyebutkan aqidah salaf, Ibnu Batthah dalam kitab al-Ibana al-Kubro dan as-Shughra, al-Ajurri dalam kitabnya as-Syariah, atau Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Aqidah al-Wasithiyah.
Beliau melanjutkan,
فالأصل فيما حكاه عالم معروف بمذهب السلف ونسبه إليهم أنه كذلك حتى يتبين خلافه فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقا وقد أمرنا أن نتبعهم فلابد أن ربنا قد حفظه لنا بجمع العلماء له.
Prinsipnya adalah apa yang dinyatakan oleh para ulama yang dia dikenal sebagai ulama ber-aqidah salaf, dan mereka menyebutnya sebagai aqidah salaf, maka itu adalah aqidah salaf. Karena aqidah salaf itu pasti benar, dan kita diperintahkan untuk mengikuti mereka. Sehingga Allah pasti menjaga aqidah ini untuk kita, dengan cara Allah ciptakan para ulama yang menulis aqidah itu. (Mukadimah li Dirasah Kutub I’tiqad, hlm. 8)
Alhamdulillah, ada banyak sekali kitab-kitab aqidah yang ditulis oleh para ulama ahlus sunah, dan sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Diantaranya,
[1]. Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, karya Imam Ismail bin Abdurachman Ash-Shabuni
Buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul: Aqidah Salaf Ashhabul Hadits
Diterbitkan: Gema Ilmu
[2]. Lum’atul I’tiqad, karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi
Buku ini diberi penjelasan oleh Imam Ibnu Utsaimin, dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Judul terjemah: Syarah Lum’atul I’tiqad Cara Mudah Memahami Nama Dan Sifat Allah
Diterbitkan: Media Hidayah
[3]. Aqidah al-Wasithiyah, Ibnu Taimiyah
Buku ini telah diberi penjelasan oleh Imam Ibnu Utsaimin dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Syarah Aqidah Wasithiyah Induk Akidah Islam.
Diterbitkan: Darul Haq
Kitabut Tauhid, karya Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi
Buku ini telah diterjemahkan dengan judul Kitab Tauhid, dan diterbitkan oleh banyak penerbit.
[4]. al-Qawaid al-Arba’, karya Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi
Duku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Syarah al-Qawa’id al-Arba’: 4 Kaidah Memahami Kemusyrikan. Ada banyak sekali ulama yang memberikan penjelasan untuk buku ini, diantaranya adalah Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsriy.
Tauhid 1, 2, dan 3, karya Dr. Soleh al-Fauzan dan tim penulis tauhid
Mukhtashar fi al-Aqidah, karya Dr. Khalid al-Musyaiqih
Buku ini sangat direkomendasikan, dan sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul, Buku Pintar Akidah. Diterbitkan oleh: Wafa Press
[5]. Khudz Aqidatak, karya Muhammad Bin Jamil Zainu.
Buku ini telah diterjemahkan dengan judul: Ambillah Aqidahmu Dari Al-Qur’an Dan As-Sunnah Shahih.
Sebaliknya, ada beberapa kitab yang membahas masalah aqidah, namun mayoritas sumbernya berasal dari klaim tanpa dalil atau dari hadis yang jelas palsu. Terutama *buku-buku aqidah yang ditulis oleh orang sufi dan memiliki penyimpangan dalam pemikiran. Karena mengikuti pengaruh ahli kalam.*
Demikian, Semoga bermanfaat
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Masuk Surga Tanpa Hisab
# Masuk Surga Tanpa Hisab
- salah satu pelajaran TAUHID yang menarik adalah "masuk surga tanpa hisab dan adzab"
.
-Artinya nanti kita langsung masuk surga:
√ tanpa menjalani proses hisab (peradilan yang seadil-adilnya)
√ tanpa melalui proses yang sangat lama (ingat satu hari akhirat sama dengan 1000 tahun dunia)
√ tanpa bersusah-susah melalui beratnya hari akhir nanti
√ melewati shirat dengan sangat cepat dan mudah, diriwayatkan ada yang secepat angin, secepat pandangan mata dan lain-lainnya
.
-Berdoa dan berharaplah masuk surga tanpa hisab, karena hisab proses yang berat sekali
.
-Hisab dan peradilan seadil-adilnya, setiap perbuatan kita semuanya, besar-kecilnya, beberapa dosa (aib) bisa diketahui oleh makhluk lainnya (duh bisa malu dll)
.
-Beratnya saat-saat padang mahsyar mana para Nabi saja hanya mengurusi diri mereka sendiri, manusia telanjang semuanya dan tidak ada yang saling melirik (karena syahwat) karena saking beratnya perkara saat itu
.
-Belum lagi ia sampai lupa keluarga anak dan istri, ya karena sangat dahsyat perkara saat itu
.
-Nah, ini ada bisa masuk surga tanpa hisab dan adzab (karena ada juga yang mampir ke neraka dulu baru masuk surga)
.
-Siapakah mereka? Dalam hadits beberapa cirinya dijelaskan
.
“Mereka itu tidak melakukan thiyarah (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka
bertawakkal.” (HR. Bukhari)
.
-Maksudnya gimana yah? Thiyarah, minta diruqyah, dan kay? Nah, mari belajar kitab TAUHID dan penjelasan ulama, intinya adalah tawakkal dan ketergantungan hati pada Allah
.
-Kalau mau masuk sekolah favorit kita cari tahu, masa' sih mau masuk surga tanpa hisab kita tidak mau cari tahu
Link http://muslimafiyah.com/masuk-surga-tanpa-hisab.html
.
Penyusun: Raehanul Bahraen
- salah satu pelajaran TAUHID yang menarik adalah "masuk surga tanpa hisab dan adzab"
.
-Artinya nanti kita langsung masuk surga:
√ tanpa menjalani proses hisab (peradilan yang seadil-adilnya)
√ tanpa melalui proses yang sangat lama (ingat satu hari akhirat sama dengan 1000 tahun dunia)
√ tanpa bersusah-susah melalui beratnya hari akhir nanti
√ melewati shirat dengan sangat cepat dan mudah, diriwayatkan ada yang secepat angin, secepat pandangan mata dan lain-lainnya
.
-Berdoa dan berharaplah masuk surga tanpa hisab, karena hisab proses yang berat sekali
.
-Hisab dan peradilan seadil-adilnya, setiap perbuatan kita semuanya, besar-kecilnya, beberapa dosa (aib) bisa diketahui oleh makhluk lainnya (duh bisa malu dll)
.
-Beratnya saat-saat padang mahsyar mana para Nabi saja hanya mengurusi diri mereka sendiri, manusia telanjang semuanya dan tidak ada yang saling melirik (karena syahwat) karena saking beratnya perkara saat itu
.
-Belum lagi ia sampai lupa keluarga anak dan istri, ya karena sangat dahsyat perkara saat itu
.
-Nah, ini ada bisa masuk surga tanpa hisab dan adzab (karena ada juga yang mampir ke neraka dulu baru masuk surga)
.
-Siapakah mereka? Dalam hadits beberapa cirinya dijelaskan
.
“Mereka itu tidak melakukan thiyarah (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka
bertawakkal.” (HR. Bukhari)
.
-Maksudnya gimana yah? Thiyarah, minta diruqyah, dan kay? Nah, mari belajar kitab TAUHID dan penjelasan ulama, intinya adalah tawakkal dan ketergantungan hati pada Allah
.
-Kalau mau masuk sekolah favorit kita cari tahu, masa' sih mau masuk surga tanpa hisab kita tidak mau cari tahu
Link http://muslimafiyah.com/masuk-surga-tanpa-hisab.html
.
Penyusun: Raehanul Bahraen
April 01, 2019
ISRA' MI'RAJ BUKAN HARI RAYA ISLAM..!!
💥⚠ ISRA' MI'RAJ BUKAN HARI RAYA ISLAM..!!
✍🏼 Asy-Syaikh al-Allamah Dr. Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
الاحتفال بالإسراء والمعراج ليلة سبع وعشرين من رجب ليس من الدين في شيء، وإنما هو من البدع المحدثة.
أولا: تحديد الليلة بدون دليل.
وثانيا: لو ثبت أنها هي ليلة الإسراء والمعراج، فالله جل وعلا لم يشرع لنا أن نحتفل فيها.
Merayakan Isra' Mi'raj pada malam ke-27 Rajab bukan termasuk bagian agama sama sekali, tetapi termasuk bid'ah yang diada-adakan. Alasannya:
● Pertama: Penentuan malam tersebut tidak berdasarkan dalil.
● Kedua: Seandainya dipastikan bahwa pada malam tersebut terjadi peristiwa Isra' Mi'raj, namun Allah Jalla wa Ala tidak pernah mensyariatkan kepada kita agar kita memperingatinya pada malam tersebut.
🌍 Sumber || https://twitter.com/SFawzaan/status/984435315392876546?s=19
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:
من قال أنها ليلة سبع وعشرين من رجب قول باطل لا أساس له في الأحاديث الصحيحة.
"Siapa yang mengatakan bahwa hal itu (Isra' Mi'raj) terjadi pada malam ke-27 di bulan Rajab maka itu adalah ucapan batil yang tidak memiliki dasar dalam hadits-hadits yang shahih."
📚 Majmu'ul Fatawa, jilid 1 hlm. 192
🌍 Sumber || https://twitter.com/alsunna_way/status/983873789082693632?s=19
✍🏼 Asy-Syaikh al-Allamah Dr. Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
الاحتفال بالإسراء والمعراج ليلة سبع وعشرين من رجب ليس من الدين في شيء، وإنما هو من البدع المحدثة.
أولا: تحديد الليلة بدون دليل.
وثانيا: لو ثبت أنها هي ليلة الإسراء والمعراج، فالله جل وعلا لم يشرع لنا أن نحتفل فيها.
Merayakan Isra' Mi'raj pada malam ke-27 Rajab bukan termasuk bagian agama sama sekali, tetapi termasuk bid'ah yang diada-adakan. Alasannya:
● Pertama: Penentuan malam tersebut tidak berdasarkan dalil.
● Kedua: Seandainya dipastikan bahwa pada malam tersebut terjadi peristiwa Isra' Mi'raj, namun Allah Jalla wa Ala tidak pernah mensyariatkan kepada kita agar kita memperingatinya pada malam tersebut.
🌍 Sumber || https://twitter.com/SFawzaan/status/984435315392876546?s=19
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:
من قال أنها ليلة سبع وعشرين من رجب قول باطل لا أساس له في الأحاديث الصحيحة.
"Siapa yang mengatakan bahwa hal itu (Isra' Mi'raj) terjadi pada malam ke-27 di bulan Rajab maka itu adalah ucapan batil yang tidak memiliki dasar dalam hadits-hadits yang shahih."
📚 Majmu'ul Fatawa, jilid 1 hlm. 192
🌍 Sumber || https://twitter.com/alsunna_way/status/983873789082693632?s=19
Bermakmum Kepada Imam Yang Tidak Mengeraskan Bacaan Saat Shalat Jahriyah
# *Bermakmum Kepada Imam Yang Tidak Mengeraskan Bacaan Saat Shalat Jahriyah*
Pertanyaan
بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته
Ustadz, saya mau tanya,
1. Apa hukumnya bagi laki-laki mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan ayat-ayat pendek di saat shalat?
2. Apa hukumnya bermakmum kepada imam yang tidak mengeraskan bacaannya? (pada shalat maghrib, isya, subuh.)
Lalu bagaimana solusinya jika tidak ada imam lain?
Syukron..
Wassalammu’alaykum
(Fulanah – Banda Aceh, Sahabat BiAS T06 G-01)
Jawaban
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
1. Jika ia menjadi imam maka ia mengeraskan bacaannya di shalat maghrib, isya’ dan subuh. Sisanya berupa shalat duhur, asar tidak dikeraskan.
Tapi jika ia makmum atau shalat sendiri ia tidak mengeraskan bacaannya, wallahu a’lam.
2. Shalatnya sah tetapi menyelisihi sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Jika kita termasuk orang yang memegang tampuk kepemimpinan di mesjid, imam seperti ini harus di ganti.
Imam Ibnu Utsaimin ditanya :
هل يجوز قلب الصلاة السرية إلى جهرية والعكس ؟
“Apakah boleh membalik shalat sirriyah (pelan) menjadi jahriyah (keras bacaannya) atau sebaliknya?
Jawaban :
” خلاف السنة , وإن اتخذ الإنسان ذلك سنة ، قلنا : أنت مبتدع , يعني : لو جهر في صلاة الظهر على أن هذا سنة ، قلنا : أنت مبتدع , وإذا كان إماماً : عزلناه ، ما لم يتب , وإذا أسر في الجهرية واعتقد أن هذا سنة قلنا : هذه بدعة , وعزلناه ما لم يتب , لكن ليعلم أن الرسول صلى الله عليه وسلم في الصلاة السرية يُسمع الصحابة الآية أحياناً , فينبغي للإمام ، لا للمأموم ، في الصلاة السرية أحياناً : أن يسمع المأمومين القراءة , لينبههم على أنه يقرأ “
“Ini menyelisihi sunnah, jika ada manusia menjadikan hal ini sebagai sunnah (kebiasaan), kami katakan dia ini ahli bid’ah. Maksudnya jika ia mengeraskan bacaan di shalat dhuhur dan meyakini hal tersebut menjadi sunnah, kami katakan kamu ini ahli bidah. Dan kita mencopotnya dari imam jika ia tidak bertobat.
Jika ia melirihkan bacaan di shalat jahriyah (salat yang dikeraskan bacaannya, -pent) dan menganggapnya sebagai sunnah, kami katakan kamu ini ahli bid’ah. Dan kita mencopotnya dari imam jika ia tidak bertaubat.
Tapi hendaknya diketahui bahwa Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam pada shalat sirriyah/pelan, beliau memperdengarkan bacaannya kepada para sahabat kadang-kadang.
Maka sepatutnya bagi imam, bukan bagi makmum, untuk memperdengarkan bacaan pada shalat sirriyah sesekali (memperdengarkan sebagian ayat, bukan pada keseluruhan surat yang ia baca, -pent) untuk mengisyaratkan pada makmum bahwa ia membaca.” (Liqa’ Babul Maftuh : 23/109).
Pada kasus kita kali ini, hendaknya imam dinasehati untuk tidak melakukan penyelisihan sunnah. Jika ia ngeyel hendaknya pihak yang berwenang mencopotnya dari jabatan imam tersebut. Jika tidak memungkinkan diganti lebih baik shalat di lokasi lain yang lebih mencocoki sunnah dalam hal ini, dengan tetap shalat bersamanya di masjid kita tersebut pada shalat-shalat sirriyah, agar tidak menimbulkan kesan ekslusif/memisahkan diri di mata masyarakat sekitar kita
Wallahu a’lam.
Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله
Senin, 21 Shafar 1438 H / 21 November 2016 M
Referensi: https://bimbinganislam.com/bermakmum-kepada-imam-yang-tidak-mengeraskan-bacaan-saat-shalat-jahriyah/
📡 _Published by :_
*Radio Hiجrahfm 107.7 MHz*
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
📻 ```Join Group WhatsApp Radio Hiجrahfm 107.7 MHz
( Khusus Akhwat )```
https://chat.whatsapp.com/9gN6dictd9a1AgQR3kSMbZ
Pertanyaan
بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته
Ustadz, saya mau tanya,
1. Apa hukumnya bagi laki-laki mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan ayat-ayat pendek di saat shalat?
2. Apa hukumnya bermakmum kepada imam yang tidak mengeraskan bacaannya? (pada shalat maghrib, isya, subuh.)
Lalu bagaimana solusinya jika tidak ada imam lain?
Syukron..
Wassalammu’alaykum
(Fulanah – Banda Aceh, Sahabat BiAS T06 G-01)
Jawaban
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
1. Jika ia menjadi imam maka ia mengeraskan bacaannya di shalat maghrib, isya’ dan subuh. Sisanya berupa shalat duhur, asar tidak dikeraskan.
Tapi jika ia makmum atau shalat sendiri ia tidak mengeraskan bacaannya, wallahu a’lam.
2. Shalatnya sah tetapi menyelisihi sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Jika kita termasuk orang yang memegang tampuk kepemimpinan di mesjid, imam seperti ini harus di ganti.
Imam Ibnu Utsaimin ditanya :
هل يجوز قلب الصلاة السرية إلى جهرية والعكس ؟
“Apakah boleh membalik shalat sirriyah (pelan) menjadi jahriyah (keras bacaannya) atau sebaliknya?
Jawaban :
” خلاف السنة , وإن اتخذ الإنسان ذلك سنة ، قلنا : أنت مبتدع , يعني : لو جهر في صلاة الظهر على أن هذا سنة ، قلنا : أنت مبتدع , وإذا كان إماماً : عزلناه ، ما لم يتب , وإذا أسر في الجهرية واعتقد أن هذا سنة قلنا : هذه بدعة , وعزلناه ما لم يتب , لكن ليعلم أن الرسول صلى الله عليه وسلم في الصلاة السرية يُسمع الصحابة الآية أحياناً , فينبغي للإمام ، لا للمأموم ، في الصلاة السرية أحياناً : أن يسمع المأمومين القراءة , لينبههم على أنه يقرأ “
“Ini menyelisihi sunnah, jika ada manusia menjadikan hal ini sebagai sunnah (kebiasaan), kami katakan dia ini ahli bid’ah. Maksudnya jika ia mengeraskan bacaan di shalat dhuhur dan meyakini hal tersebut menjadi sunnah, kami katakan kamu ini ahli bidah. Dan kita mencopotnya dari imam jika ia tidak bertobat.
Jika ia melirihkan bacaan di shalat jahriyah (salat yang dikeraskan bacaannya, -pent) dan menganggapnya sebagai sunnah, kami katakan kamu ini ahli bid’ah. Dan kita mencopotnya dari imam jika ia tidak bertaubat.
Tapi hendaknya diketahui bahwa Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam pada shalat sirriyah/pelan, beliau memperdengarkan bacaannya kepada para sahabat kadang-kadang.
Maka sepatutnya bagi imam, bukan bagi makmum, untuk memperdengarkan bacaan pada shalat sirriyah sesekali (memperdengarkan sebagian ayat, bukan pada keseluruhan surat yang ia baca, -pent) untuk mengisyaratkan pada makmum bahwa ia membaca.” (Liqa’ Babul Maftuh : 23/109).
Pada kasus kita kali ini, hendaknya imam dinasehati untuk tidak melakukan penyelisihan sunnah. Jika ia ngeyel hendaknya pihak yang berwenang mencopotnya dari jabatan imam tersebut. Jika tidak memungkinkan diganti lebih baik shalat di lokasi lain yang lebih mencocoki sunnah dalam hal ini, dengan tetap shalat bersamanya di masjid kita tersebut pada shalat-shalat sirriyah, agar tidak menimbulkan kesan ekslusif/memisahkan diri di mata masyarakat sekitar kita
Wallahu a’lam.
Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله
Senin, 21 Shafar 1438 H / 21 November 2016 M
Referensi: https://bimbinganislam.com/bermakmum-kepada-imam-yang-tidak-mengeraskan-bacaan-saat-shalat-jahriyah/
📡 _Published by :_
*Radio Hiجrahfm 107.7 MHz*
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
📻 ```Join Group WhatsApp Radio Hiجrahfm 107.7 MHz
( Khusus Akhwat )```
https://chat.whatsapp.com/9gN6dictd9a1AgQR3kSMbZ
Isti'anah dan Isti'adzah
*Isti'anah dan Isti'adzah*
Tanya : Mohon untuk dijelaskan tentang hukum-hukum memohon pertolongan (isti’anah) dan memohon perlindungan (isti’adzah) dalam syari’at Islam.
Jawab : *Isti’anah adalah memohon pertolongan.*
*Bentuk isti’anah ada beberapa macam :*
Pertama : Memohon pertolongan kepada Allah, yaitu permohonan yang mengandung kerendahan diri yang sempurna dari seorang hamba kepada Rabb-nya, menyerahkan semua urusan kepada-Nya dan meyakini hanya Dia-lah yang bisa mencukupinya. Isti’anah semacam ini tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya kepada Allah.
Dalilnya adalah firman Allah :
إِيّاكَ نَعْبُدُ وإِيّاكَ نَسْتَعِينُ
”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan (isti’anah)” [QS. Al-Fatihah : 5].
Hal yang menunjukkan pengkhususan (isti’anah kepada Allah) dalam ayat ini adalah didahulukannya objek penderita yang berupa kata [إِيّاكَ]. Dalam tata bahasa Arab mendahulukan sesuatu yang semestinya diakhirkan menunjukkan pembatasan dan pengkhususan. Oleh karena itu, barangsiapa yang memalingkan hal tersebut kepada selain Allah maka ia telah berbuat kemusyrikan yang dapat menjadikannya keluar dari agama.
Kedua : Memohon pertolongan kepada makhluk yang ia mampu untuk melakukan. Ini tergantung macam pertolongan yang ia minta.
Jika dalam kebaikan maka hal tersebut diperbolehkan bagi yang minta tolong dan dianjurkan bagi yang menolong, berdasarkan firman Allah :
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرّ وَالتّقْوَىَ
”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa” [QS. Al-Maaidah : 2].
Jika pertolongan tersebut dalam kemaksiatan maka keduanya mendapat dosa berdasarkan firman Allah :
وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan” [QS. Al-Maidah : 2].
Apabila pertolongan tersebut terhadap sesuatu yang mubah, maka dibolehkan bagi kedua belah pihak dan mungkin si penolong mendapatkan pahala atas kebaikan yang ia lakukan untuk orang lain. Bagi yang dimintai pertolongan dianjurkan syara’ untuk menolong berdasarkan firman Allah ta’ala :
َأَحْسِنُوَاْ إِنّ اللّهَ يُحِبّ الْمُحْسِنِينَ
”Berbuat baiklah, sesungguhnya Allah senang terhadap orang-orang yang berbuat baik” [QS. Al-Baqarah : 195].
Ketiga : Memohon pertolongan kepada makhluk hidup yang ada di hadapannya, tapi tidak mampu memberikan pertolongan. Ini jelas suatu kesia-siaan karena dia tidak memiliki kuasa. Hal ini seperti halnya orang yang meminta tolong kepada orang yang lemah untuk mengangkat beban yang berat.
Keempat : Memohon pertolongan kepada orang mati secara mutlak atau kepada orang hidup dalam masalah ghaib, dimana ia tidak mampu melakukannya. Ini jelas syirik, karena hal tersebut terjadi dari keyakinan bahwa orang yang dimintai pertolongan tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa di alam ini.
Kelima : Menjadikan amal shalih dan hal-hal yang dicintai Allah sebagai penolong. Hal seperti ini dianjurkan berdasarkan perintah Allah dalam firman-Nya :
اسْتَعِينُواْ بِالصّبْرِ وَالصّلاَةِ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu” [QS. Al-Baqarah : 153].
Adapun *Isti’adzah artinya memohon perlindungan dan penjagaan dari hal yang dihindari.*
*Isti’adzah ada beberapa macam :*
Pertama : Isti’adzah (mohon perlindungan) kepada Allah yang mengandung sikap membutuhkan benar-benar, hanya kepadanya tempat bergantung, hanya Dia yang mencukupi segala sesuatu serta hanya Dia tempat berlindung yang sempurna dari segala sesuatu yang sedang atau akan terjadi, kecil atau besar. Baik datang dari manusia atau yang lainnya.
Berdasarkan firman Allah :
قُلْ أَعُوذُ بِرَبّ الْفَلَقِ * مِن شَرّ مَا خَلَقَ
”Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya” [QS. Al-Falaq : 1-2].
Dan juga firman-Nya :
قُلْ أَعُوذُ بِرَبّ النّاسِ * مَلِكِ النّاسِ * إِلَـَهِ النّاسِ * مِن شَرّ الْوَسْوَاسِ الْخَنّاسِ * الّذِى يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النّاسِ * مِنَ الْجِنّةِ وَالنّاسِ
”Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia” [QS. A-Naas : 1-6].
Kedua : Mohon perlindungan kepada Allah dengan sifat-Nya, seperti kalam-Nya, kemuliaan-Nya, keagungan-Nya, atau semisalnya; berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَق
“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2708].
Dan juga sabda beliau :
أَعُوذُ بِعِظْمَتِكَ أَنْ أَغتَال مِنْ تَحْتِي
“Aku berlindung dengan keagungan-Mu dari terbinasakan dari arah bawahku” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/25 dan An-Nasa’i 8/677).
Dan dalam doa ketika sakit :
أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِد
“Aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari keburukan yang aku temui” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/217, Abu Dawud no. 3891, dan Ibnu Majah no. 2522].
Dan sabda beliau yang lain :
أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ
“Aku berlindung dengan ridla-Mu dari kemurkaan-Mu” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 486].
Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika turun ayat :
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىَ أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ
“Katakanlah : Dialah yang bekuasa untuk menimpakan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu ke dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain” (QS. Al-An’am : 65);
maka beliau bersabda :
أَعُوذُ بِوَجْهِكَ
“Aku berlindung dengan Wajah-Mu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Kitaabul-I’tisham, bab firman Allah : Atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan yang saling bertentangan – no. : 6883].
Ketiga : Mohon perlindungan kepada orang mati atau hidup yang tidak hadir di hadapannya dan tidak mampu memberikan perlindungan.
Ini termasuk syirik, berdasarkan firman Allah :
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً
“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin-jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” [QS. Al-Jin : 6].
Keempat : Memohon perlindungan kepada sesuatu yang mungkin dapat dijadikan tempat berlindung, baik manusia, tempat, atau yang lainnya.
Hal ini diperbolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebut fitnah :
من تشرف لها تستشرفه فمن وجد فيها ملجأ أو معاذا فليعذ به
“Barangsiapa yang mencari-carinya ia akan terjerat olehnya dan barangsiapa yang mendapat tempat berlindung atau berteduh maka hendaklah ia berlindung dengannya” [Muttafaqun ‘alaihi].
Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bentuk perlindungan ini dengan sabdanya :
فمن كان له إبل فليلحق بإبله
“Siapa yang yang memiliki onta, maka hendaklah menggunakan ontanya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2887].
Dalam Shahih Muslim disebutkan dari Jabir, bahwa seorang wanita dari Bani Makhzum melakukan pencurian lalu dihadapkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan kemudian ia minta perlindungan kepada Ummu Salamah [Diriwayatkan oleh Muslim, Kitaabul-Hudud, bab “Pemotongan Tangan Pencuri Terhormat”].
Dalam Shahih Muslim juga dari Ummu Salamah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
يَعُوذُ عَائِذ بِاْلبَيْتِ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْث
“Ada orang yang berlindung dengan Ka’bah, lalu dikirimlah suatu utusan kepadanya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2882].
Jika seseorang minta perlindungan dari kejahatan orang dhalim maka kita wajib melindunginya sebatas kemampuan yang kita miliki. Akan tetapi jika dia minta perlindungan untuk tujuan melakukan kemunkaran atau melarikan diri dari menunaikan kewajibannya, maka haram bagi kita melindunginya.
Wallaahu a’lam
Tanya : Mohon untuk dijelaskan tentang hukum-hukum memohon pertolongan (isti’anah) dan memohon perlindungan (isti’adzah) dalam syari’at Islam.
Jawab : *Isti’anah adalah memohon pertolongan.*
*Bentuk isti’anah ada beberapa macam :*
Pertama : Memohon pertolongan kepada Allah, yaitu permohonan yang mengandung kerendahan diri yang sempurna dari seorang hamba kepada Rabb-nya, menyerahkan semua urusan kepada-Nya dan meyakini hanya Dia-lah yang bisa mencukupinya. Isti’anah semacam ini tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya kepada Allah.
Dalilnya adalah firman Allah :
إِيّاكَ نَعْبُدُ وإِيّاكَ نَسْتَعِينُ
”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan (isti’anah)” [QS. Al-Fatihah : 5].
Hal yang menunjukkan pengkhususan (isti’anah kepada Allah) dalam ayat ini adalah didahulukannya objek penderita yang berupa kata [إِيّاكَ]. Dalam tata bahasa Arab mendahulukan sesuatu yang semestinya diakhirkan menunjukkan pembatasan dan pengkhususan. Oleh karena itu, barangsiapa yang memalingkan hal tersebut kepada selain Allah maka ia telah berbuat kemusyrikan yang dapat menjadikannya keluar dari agama.
Kedua : Memohon pertolongan kepada makhluk yang ia mampu untuk melakukan. Ini tergantung macam pertolongan yang ia minta.
Jika dalam kebaikan maka hal tersebut diperbolehkan bagi yang minta tolong dan dianjurkan bagi yang menolong, berdasarkan firman Allah :
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرّ وَالتّقْوَىَ
”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa” [QS. Al-Maaidah : 2].
Jika pertolongan tersebut dalam kemaksiatan maka keduanya mendapat dosa berdasarkan firman Allah :
وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan” [QS. Al-Maidah : 2].
Apabila pertolongan tersebut terhadap sesuatu yang mubah, maka dibolehkan bagi kedua belah pihak dan mungkin si penolong mendapatkan pahala atas kebaikan yang ia lakukan untuk orang lain. Bagi yang dimintai pertolongan dianjurkan syara’ untuk menolong berdasarkan firman Allah ta’ala :
َأَحْسِنُوَاْ إِنّ اللّهَ يُحِبّ الْمُحْسِنِينَ
”Berbuat baiklah, sesungguhnya Allah senang terhadap orang-orang yang berbuat baik” [QS. Al-Baqarah : 195].
Ketiga : Memohon pertolongan kepada makhluk hidup yang ada di hadapannya, tapi tidak mampu memberikan pertolongan. Ini jelas suatu kesia-siaan karena dia tidak memiliki kuasa. Hal ini seperti halnya orang yang meminta tolong kepada orang yang lemah untuk mengangkat beban yang berat.
Keempat : Memohon pertolongan kepada orang mati secara mutlak atau kepada orang hidup dalam masalah ghaib, dimana ia tidak mampu melakukannya. Ini jelas syirik, karena hal tersebut terjadi dari keyakinan bahwa orang yang dimintai pertolongan tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa di alam ini.
Kelima : Menjadikan amal shalih dan hal-hal yang dicintai Allah sebagai penolong. Hal seperti ini dianjurkan berdasarkan perintah Allah dalam firman-Nya :
اسْتَعِينُواْ بِالصّبْرِ وَالصّلاَةِ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu” [QS. Al-Baqarah : 153].
Adapun *Isti’adzah artinya memohon perlindungan dan penjagaan dari hal yang dihindari.*
*Isti’adzah ada beberapa macam :*
Pertama : Isti’adzah (mohon perlindungan) kepada Allah yang mengandung sikap membutuhkan benar-benar, hanya kepadanya tempat bergantung, hanya Dia yang mencukupi segala sesuatu serta hanya Dia tempat berlindung yang sempurna dari segala sesuatu yang sedang atau akan terjadi, kecil atau besar. Baik datang dari manusia atau yang lainnya.
Berdasarkan firman Allah :
قُلْ أَعُوذُ بِرَبّ الْفَلَقِ * مِن شَرّ مَا خَلَقَ
”Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya” [QS. Al-Falaq : 1-2].
Dan juga firman-Nya :
قُلْ أَعُوذُ بِرَبّ النّاسِ * مَلِكِ النّاسِ * إِلَـَهِ النّاسِ * مِن شَرّ الْوَسْوَاسِ الْخَنّاسِ * الّذِى يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النّاسِ * مِنَ الْجِنّةِ وَالنّاسِ
”Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia” [QS. A-Naas : 1-6].
Kedua : Mohon perlindungan kepada Allah dengan sifat-Nya, seperti kalam-Nya, kemuliaan-Nya, keagungan-Nya, atau semisalnya; berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَق
“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2708].
Dan juga sabda beliau :
أَعُوذُ بِعِظْمَتِكَ أَنْ أَغتَال مِنْ تَحْتِي
“Aku berlindung dengan keagungan-Mu dari terbinasakan dari arah bawahku” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/25 dan An-Nasa’i 8/677).
Dan dalam doa ketika sakit :
أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِد
“Aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari keburukan yang aku temui” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/217, Abu Dawud no. 3891, dan Ibnu Majah no. 2522].
Dan sabda beliau yang lain :
أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ
“Aku berlindung dengan ridla-Mu dari kemurkaan-Mu” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 486].
Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika turun ayat :
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىَ أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ
“Katakanlah : Dialah yang bekuasa untuk menimpakan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu ke dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain” (QS. Al-An’am : 65);
maka beliau bersabda :
أَعُوذُ بِوَجْهِكَ
“Aku berlindung dengan Wajah-Mu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Kitaabul-I’tisham, bab firman Allah : Atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan yang saling bertentangan – no. : 6883].
Ketiga : Mohon perlindungan kepada orang mati atau hidup yang tidak hadir di hadapannya dan tidak mampu memberikan perlindungan.
Ini termasuk syirik, berdasarkan firman Allah :
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً
“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin-jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” [QS. Al-Jin : 6].
Keempat : Memohon perlindungan kepada sesuatu yang mungkin dapat dijadikan tempat berlindung, baik manusia, tempat, atau yang lainnya.
Hal ini diperbolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebut fitnah :
من تشرف لها تستشرفه فمن وجد فيها ملجأ أو معاذا فليعذ به
“Barangsiapa yang mencari-carinya ia akan terjerat olehnya dan barangsiapa yang mendapat tempat berlindung atau berteduh maka hendaklah ia berlindung dengannya” [Muttafaqun ‘alaihi].
Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bentuk perlindungan ini dengan sabdanya :
فمن كان له إبل فليلحق بإبله
“Siapa yang yang memiliki onta, maka hendaklah menggunakan ontanya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2887].
Dalam Shahih Muslim disebutkan dari Jabir, bahwa seorang wanita dari Bani Makhzum melakukan pencurian lalu dihadapkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan kemudian ia minta perlindungan kepada Ummu Salamah [Diriwayatkan oleh Muslim, Kitaabul-Hudud, bab “Pemotongan Tangan Pencuri Terhormat”].
Dalam Shahih Muslim juga dari Ummu Salamah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
يَعُوذُ عَائِذ بِاْلبَيْتِ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْث
“Ada orang yang berlindung dengan Ka’bah, lalu dikirimlah suatu utusan kepadanya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2882].
Jika seseorang minta perlindungan dari kejahatan orang dhalim maka kita wajib melindunginya sebatas kemampuan yang kita miliki. Akan tetapi jika dia minta perlindungan untuk tujuan melakukan kemunkaran atau melarikan diri dari menunaikan kewajibannya, maka haram bagi kita melindunginya.
Wallaahu a’lam
BELAJAR AGAMA Tidak MENCUKUPKAN Dengan SATU GURU SAJA Apalagi FANATIK
# *BELAJAR AGAMA Tidak MENCUKUPKAN Dengan SATU GURU SAJA Apalagi FANATIK*
Hendaknya kita sebagai penuntut ilmu agama bersemangat mencari guru yang bisa mengajarkan kita kebaikan dunia dan akhirat. Karena belajar dengan guru akan membuat kita lebih meudah dan lebih cepat memahami serta ada yang membimbing.
Akan tetapi Kita selayaknya tidak mencukupkan diri dengan satu guru saja, karena ilmu itu sangat luas, sampai-sampai ulama berkata, salah satunya adalah Hammad bin Zaid rahimahullah berkata,
إنك لا تعرف خطأ معلمك حتى تجالس غيره
“sesungguhnya engkau tidak mengetahui kesalahan gurumu sampai engkau berguru dengan yang lain.”[1]
Berikut beberapa kisah ulama dengan jumlah guru mereka yang sangat banyak:
Dari *Abdurrahman bin Abi Abdillah bin Mandah berkata,*
وسمعت أبي يقول: كتبت عن ألف وسبعمائة. قال جعفر المستغفري: ما رأيت أحدًا أحفظ من أبي عبد الله بن منده، سألته يومًا: كم يكون سماعات الشيخ؟ قال: تكون خمسة آلاف منّ. قلت: المنّ يجيء عشرة أجزاء كبار.
“saya mendengar ayahku berkata, “saya menulis/belajar dari 1.700 guru”. Ja’far Al-Mustaghfiri berkata, “saya tidak melihat seseorangpun yang lebih hapal dari Abu Abdillah bin Mandah, saya bertanya kepadanya suatu hari, “berapa yang anda pelajari dari para syaikh?”. Beliau berkata, “lima ribu mann”. Azd-Dzahabi berkata, “ satu mann sama dengan 10 juz besar”.[2]
*Ibnu An-Najjar berkata,*
سمعت من يذكر أن عدد شيوخه سبعة آلاف شيخ وهذا شيء لم يبلغه أحد، وكان مليح التصانيف كثير النشوار والأناشيد لطيف المزاح ظريفًا حافظًا واسع الرحلة ثقة صدوقًا دينًا سمع منه مشايخه وأقرانه وحدثنا عنه جماعة
“saya mendengar ada yang mengatakan bahwa gurunya 7.000 syaikh dan tidak ada yang seperti ini. Karangannya sangat menarik dan tersebar/ dia juga menulis syair ringan dan menghibur, seorang hafidz, sering berpetualang (menuntut ilmu), terpercaya dan jujur. Para guru dan orang yang sezaman dengannya belajar dari beliau dan begitupula sejumlah perawi.”[3]
*Ibnu As-Sa’iy berkata tentang Ibnu An-Najjar,*
قال ابن الساعي: اشتملت مشيخته على ثلاثة آلاف شيخ وأربع مائة امرأة
“para guru Ibnu An-Najjar mencapai 3.000 syaikh dan 400 guru wanita.”[4]
Demikian *semoga bermanfaat*
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam
@Perpus FK UGM, Yogyakarta Tercinta
Penyusun: *Raehanul Bahraen*
Artikel www.muslimafiyah.com
Hendaknya kita sebagai penuntut ilmu agama bersemangat mencari guru yang bisa mengajarkan kita kebaikan dunia dan akhirat. Karena belajar dengan guru akan membuat kita lebih meudah dan lebih cepat memahami serta ada yang membimbing.
Akan tetapi Kita selayaknya tidak mencukupkan diri dengan satu guru saja, karena ilmu itu sangat luas, sampai-sampai ulama berkata, salah satunya adalah Hammad bin Zaid rahimahullah berkata,
إنك لا تعرف خطأ معلمك حتى تجالس غيره
“sesungguhnya engkau tidak mengetahui kesalahan gurumu sampai engkau berguru dengan yang lain.”[1]
Berikut beberapa kisah ulama dengan jumlah guru mereka yang sangat banyak:
Dari *Abdurrahman bin Abi Abdillah bin Mandah berkata,*
وسمعت أبي يقول: كتبت عن ألف وسبعمائة. قال جعفر المستغفري: ما رأيت أحدًا أحفظ من أبي عبد الله بن منده، سألته يومًا: كم يكون سماعات الشيخ؟ قال: تكون خمسة آلاف منّ. قلت: المنّ يجيء عشرة أجزاء كبار.
“saya mendengar ayahku berkata, “saya menulis/belajar dari 1.700 guru”. Ja’far Al-Mustaghfiri berkata, “saya tidak melihat seseorangpun yang lebih hapal dari Abu Abdillah bin Mandah, saya bertanya kepadanya suatu hari, “berapa yang anda pelajari dari para syaikh?”. Beliau berkata, “lima ribu mann”. Azd-Dzahabi berkata, “ satu mann sama dengan 10 juz besar”.[2]
*Ibnu An-Najjar berkata,*
سمعت من يذكر أن عدد شيوخه سبعة آلاف شيخ وهذا شيء لم يبلغه أحد، وكان مليح التصانيف كثير النشوار والأناشيد لطيف المزاح ظريفًا حافظًا واسع الرحلة ثقة صدوقًا دينًا سمع منه مشايخه وأقرانه وحدثنا عنه جماعة
“saya mendengar ada yang mengatakan bahwa gurunya 7.000 syaikh dan tidak ada yang seperti ini. Karangannya sangat menarik dan tersebar/ dia juga menulis syair ringan dan menghibur, seorang hafidz, sering berpetualang (menuntut ilmu), terpercaya dan jujur. Para guru dan orang yang sezaman dengannya belajar dari beliau dan begitupula sejumlah perawi.”[3]
*Ibnu As-Sa’iy berkata tentang Ibnu An-Najjar,*
قال ابن الساعي: اشتملت مشيخته على ثلاثة آلاف شيخ وأربع مائة امرأة
“para guru Ibnu An-Najjar mencapai 3.000 syaikh dan 400 guru wanita.”[4]
Demikian *semoga bermanfaat*
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam
@Perpus FK UGM, Yogyakarta Tercinta
Penyusun: *Raehanul Bahraen*
Artikel www.muslimafiyah.com
Langganan:
Komentar (Atom)






