Klick

April 04, 2019

Bidah-Bidah Seputar Al Quran (1)

🚫 *Bidah-Bidah Seputar Al Quran (1)*

1️⃣ *Menyewa orang untuk membaca Al Qur'an di kuburan*

*Syaikh ibnu 'Utsaimin ditanya*
*tentang menyewa orang untuk membaca Al Qur'an untuk*!  *dihadiahkan kepada ruh mayat.*

▶️ *Jawab:*

_Ini termasuk bid'ah, dan tidak berpahala baik untuk pembaca maupun untuk mayit. Karena pembaca mengharapkan dunia (upah) saja, dan setiap amal shalih yang bertujuan untuk meraih dunia, maka tidak mendekatkan kepada Allah dan tidak diberikan pahala, maka perbuatan ini hanyalah menyia-nyiakan harta ahli waris, dan hendaknya dijauhi karena ia adalah bid'ah yang munkar._

_(Majmu' fatawa wa rasa-il syaikh Muhamad bin Shalih al 'Utsaimin 2/304)_📕

•••

🚫 *Bidah-Bidah Seputar Al Quran (2)*

2️⃣ *Membiasakan Membuka Acara dengan Al Qur'an*

▶️ *Syaikh ibnu 'Utsaimin ditanya: Membuka acara-acara dengan membaca Al Qur'an apakah termasuk disyari'atkan?*

🎙 *Jawab:*

_Aku tidak mengetahui adanya sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam hal ini. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam seringkali mengumpulkan para shahabat untuk perang atau untuk perkara-perkara yang penting, namun beliau tidak membukanya dengan membaca Al Qur'an._

_Akan tetapi apabila acara tersebut membahas tema tertentu, lalu seseorang membaca ayat-ayat yang berhubungan dengan tema tersebut, maka tidak apa-apa._

▶️ _Adapun menjadikan membuka setiap acara dengan membaca Al Qur'an sebagai sebuah kebiasaan, seakan-akan ia adalah sunnah yang disyari'atkan, maka ini tidak boleh._
 _(Nurun 'alad Darb, fatawa syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin hal 43)_📕

•••
🚫 *Bidah-Bidah Seputar Al Quran (3)*

3️⃣ *Mencium Mushaf*
*Komite fatwa* *KSA*(Lajnah Daaimah)**ditanya:*
_Kami melihat sebagian ikhwah ketika selesai membaca Al Qur'an, ia mencium mushaf, dan mengusap dua mata dan wajahnya, apakah ada dalam syari'at?_

🎙 *Jawab:*

_Alhamdulillah washalatu wasalaamu 'alaa rasulillah.._

_Kami tidak mengetahui adanya asal dalam syari'at yang suci ini._

_(Fatwa no. 1472)_📗

•••
🚫 *Bidah-Bidah Seputar Al Quran (4)*

4️⃣ *Berusaha untuk mengikuti suara seorang qari*

📕 _Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya (no. 4835), bahwa Mu'awiyah bin Qurrah berkata:_

_"Kalau aku mau, aku akan menghikayatkan untuk kalian bacaan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam"._

📗 _Dalam riwayat Tirmidzi,_ _Mu'awiyah berkata:_
_”Kalau bukan karena khawatir orang-orang berkumpul mengerumuniku, aku akan menirukan suara (lagu) beliau Shallallahu 'alaihi wasallam"._

🎙 _Syaikh Bakr Abu Zaid_ _rahimahullah berkata: _
_"Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun shahabat yang mengikuti lagu bacaan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, kalaulah itu biasa mereka lakukan, tentu Mu'awiyah tidak perlu khawatir manusia mengerumuninya. Jadi tidak boleh kita mengikuti (lagu) suara bacaan seseorang, karena itu bukan petunjuk para shahabat dan generasi setelahnya._
_Dan aku telah meneliti kitab-kitab sejarah, dan biografi, aku tidak pernah melihat para qari saling mengikuti lagu suara qari lain dari generasi ke generasi.._

_(Tashhiihud du'a karya Syaikh Bakr Abu Zaid hal 303)_📗


Cara Mengetahui Aqidah Ahlus Sunah

*Cara Mengetahui Aqidah Ahlus Sunah


Bagaimana cara kita sebagai orang awam dalam memahami aqidah? Sementara tidak semua kita berkesempatan untuk belajar ke seorang ustad ahlus sunah. mohon bimbingannya.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Manusia dilahirkan oleh ibunya dalam kondisi tidak tahu apapun.
Allah berfirman,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا

“Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, dalam keadaan kalian tidak mengetahui apapun.” (QS. an-Nahl: 78).

Selanjutnya, secara bertahap kita mendapatkan berbagai informasi, sehingga kita mengenal orang di sekitar kita. Kita mengenal orang tua kita, mengenal suadara kita, dan kita meyakini bahwa mereka adalah keluarga kita. Selanjutnya informasi itu bertambah, sehingga kita mengenal mana kawan, mana lawan, baik buruk, benar salah.

Dan kita memahami bahwa realita di sekitar kita, ada yang bisa kita indera dan ada yang tidak bisa dijangkau dengan indera. Seperti adanya malaikat, adanya jin, di masa silam ada Nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan risalah, ada alam kubur, ada surga, ada neraka, kelak akan ada akhirat, dst.

*Keyakinan yang berkaitan dengan objek yang tidak terindera inilah yang sering diistilahkan dengan aqidah.*

Lalu dari mana kita bisa mengenal objek yang tidak terindera itu?

Ada tiga kemungkinan sumber:

[1] Dari akal dan logika, sehingga apa yang  menurut logika kita benar, kita yakini sebagai aqidah.

[2] Dari perasaan, sehingga apa yang menurut perasaan kita benar, kita jadikan sebagai aqidah.

[3] Dari dalil, al-Quran dan Sunah. Sehingga apa yang disebutkan dalam dalil, itulah aqidah yang benar.

Tentu saja, dua jawaban pertama tidak benar, karena logika dan perasaan kita, tidak mampu menjangkau hal-hal ghaib yang hanya bisa diketahui melalui wahyu.

Kaum muslimin, kaum yahudi, nasrani, hindu, budha, konghuchu atau semua penganut ajaran agama, mereka memiliki logika dan perasaan yang seragam ketika dilahirkan. Karena apapun agamanya, mereka semua manusia, yang proses penciptaannya seragam.

Jika sumber aqidah dikembalikan kepada logika dan perasaan, seharusnya hasilnya memungkinkan untuk diseragamkan. Namun aqidah seorang muslim dengan aqidah orang kafir, apapun agamanya sangat jauh berbeda.

Karena itu, jawaban yang paling benar adalah pilihan yang ketiga, bahwa aqidah hanya mungkin bersumber dari al-Quran dan sunah.

*Cara Orang Awam Memahami Aqidah*

Bagaimana orang awam bisa memahami aqidah, sementara mereka memiliki keterbatasan dalam memahami al-Quran dan sunah?

Belajar adalah kata kuncinya. Mempelajari keterangan dan kesimpulan yang disampaikan para ulama.

Karena itulah, Nabi ﷺ mewajibkan setiap muslim untuk belajar, agar mereka bisa memiliki aqidah yang benar, dan semua cara beragamanya benar.

Nabi sﷺ bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Belajar ilmu agama adalah kewajiban setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah 224 dan dishahihkan al-Albani).

Prinsip yang Allah ajarkan dalam al-Quran, bahwa aqidah yang paling benar adalah aqidah para murid Nabi ﷺ, merekalah para sahabat.

Allah berfirman,

فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا

Jika mereka beriman seperti imannya kalian (wahai para sahabat) maka mereka akan mendapatkan petunjuk. (QS. al-Baqarah: 137).

Allah memberikan jaminan, bahwa orang yang mengikuti imannya para sahabat akan mendapatkan petunjuk yang benar. Berarti makna kebalikannya, siapa yang tidak mengikuti aqidahnya para sahabat maka mereka akan sesat. (Bada’I al-Fawaid, 4/964)

Alhamdulillah, banyak sekali ulama yang menulis buku-buku seputar masalah aqidah, dengan penjelasan yang sangat mudah untuk dipahami. Sehingga kaum muslimin yang awam sekalipun, mudah bagi dia untuk bisa memahaminya. Mereka bisa membaca kitab-kitab aqidah yang ditulis ulama salaf ahlus sunah, sehingga mereka yakin bahwa apa yang tertulis di buku itu adalah aqidah ahlus sunah.

Dr. Abdul Aziz ar-Rais menjelaskan,

لمعرفة مذهب السلف  طرق من أهمها  أن تنص كتب العقائد على أن هذا مذهب السلف كأبي عثمان الصابوني في هذا الكتاب  يذكر اعتقاد السلف وابن بطة في الإبانة الكبرى والصغرى والآجري في الشريعة  ابن تيمية في الواسطية

Untuk memahami madzhab (aqidah) salaf, ada beberapa cara. Yang paling penting adalah apa yang dinyatakan dalam kitab-kitab aqidah bahwa keterangan itu adalah aqidah salaf (sahabat). seperti kitabnya Abu Utsman as-Shabuni, dalam kitab aqidahnya beliau menyebutkan aqidah salaf, Ibnu Batthah dalam kitab al-Ibana al-Kubro dan as-Shughra, al-Ajurri dalam kitabnya as-Syariah, atau Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Aqidah al-Wasithiyah.

Beliau melanjutkan,

فالأصل فيما حكاه عالم معروف بمذهب السلف ونسبه إليهم أنه كذلك حتى يتبين خلافه فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقا وقد أمرنا أن نتبعهم فلابد أن ربنا قد حفظه لنا بجمع العلماء له.

Prinsipnya adalah apa yang dinyatakan oleh para  ulama yang dia dikenal sebagai ulama ber-aqidah salaf, dan mereka menyebutnya sebagai aqidah salaf, maka itu adalah aqidah salaf. Karena aqidah salaf itu pasti benar, dan kita diperintahkan untuk mengikuti mereka. Sehingga Allah pasti menjaga aqidah ini untuk kita, dengan cara Allah ciptakan para ulama yang menulis aqidah itu. (Mukadimah li Dirasah Kutub I’tiqad, hlm. 8)

Alhamdulillah, ada banyak sekali kitab-kitab aqidah yang ditulis oleh para ulama ahlus sunah, dan sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Diantaranya,

[1]. Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, karya Imam Ismail bin Abdurachman Ash-Shabuni

Buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul: Aqidah Salaf Ashhabul Hadits

Diterbitkan: Gema Ilmu

[2]. Lum’atul I’tiqad, karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi
Buku ini diberi penjelasan oleh Imam Ibnu Utsaimin, dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Judul terjemah: Syarah Lum’atul I’tiqad Cara Mudah Memahami Nama Dan Sifat Allah

Diterbitkan: Media Hidayah

[3]. Aqidah al-Wasithiyah, Ibnu Taimiyah
Buku ini telah diberi penjelasan oleh Imam Ibnu Utsaimin dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Syarah Aqidah Wasithiyah Induk Akidah Islam.

Diterbitkan: Darul Haq

Kitabut Tauhid, karya Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi
Buku ini telah diterjemahkan dengan judul Kitab Tauhid, dan diterbitkan oleh banyak penerbit.

[4]. al-Qawaid al-Arba’, karya Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi
Duku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Syarah al-Qawa’id al-Arba’: 4 Kaidah Memahami Kemusyrikan. Ada banyak sekali ulama yang memberikan penjelasan untuk buku ini, diantaranya adalah Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsriy.

Tauhid 1, 2, dan 3, karya Dr. Soleh al-Fauzan dan tim penulis tauhid
Mukhtashar fi al-Aqidah, karya Dr. Khalid al-Musyaiqih
Buku ini sangat direkomendasikan, dan sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul, Buku Pintar Akidah. Diterbitkan oleh: Wafa Press

[5]. Khudz Aqidatak, karya Muhammad Bin Jamil Zainu.
Buku ini telah diterjemahkan dengan judul: Ambillah Aqidahmu Dari Al-Qur’an Dan As-Sunnah Shahih.

Sebaliknya, ada beberapa kitab yang membahas masalah aqidah, namun mayoritas sumbernya berasal dari klaim tanpa dalil atau dari hadis yang jelas palsu. Terutama *buku-buku aqidah yang ditulis oleh orang sufi dan memiliki penyimpangan dalam pemikiran. Karena mengikuti pengaruh ahli kalam.*

Demikian, Semoga bermanfaat

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Masuk Surga Tanpa Hisab

# Masuk Surga Tanpa Hisab

- salah satu pelajaran TAUHID yang menarik adalah "masuk surga tanpa hisab dan adzab"
.
-Artinya nanti kita langsung masuk surga:
 √ tanpa menjalani proses hisab (peradilan yang seadil-adilnya)
√ tanpa melalui proses yang sangat lama (ingat satu hari akhirat sama dengan 1000 tahun dunia)
√ tanpa bersusah-susah melalui beratnya hari akhir nanti
√ melewati shirat dengan sangat cepat dan mudah, diriwayatkan ada yang secepat angin, secepat pandangan mata dan lain-lainnya
.
-Berdoa dan berharaplah masuk surga tanpa hisab, karena hisab proses yang berat sekali
.
-Hisab dan peradilan seadil-adilnya, setiap perbuatan kita semuanya, besar-kecilnya, beberapa dosa (aib) bisa diketahui oleh makhluk lainnya (duh bisa malu dll)
.
-Beratnya saat-saat padang mahsyar mana para Nabi saja hanya mengurusi diri mereka sendiri, manusia telanjang semuanya dan tidak ada yang saling melirik (karena syahwat) karena saking beratnya perkara saat itu
.
-Belum lagi ia sampai lupa keluarga anak dan istri, ya karena sangat dahsyat perkara saat itu
.
-Nah, ini ada bisa masuk surga tanpa hisab dan adzab (karena ada juga yang mampir ke neraka dulu baru masuk surga)
.
-Siapakah mereka? Dalam hadits beberapa cirinya dijelaskan
.
“Mereka itu tidak melakukan thiyarah (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka
bertawakkal.” (HR. Bukhari)
.
-Maksudnya gimana yah? Thiyarah, minta diruqyah, dan kay? Nah, mari belajar kitab TAUHID dan penjelasan ulama, intinya adalah tawakkal dan ketergantungan hati pada Allah
.
-Kalau mau masuk sekolah favorit kita cari tahu, masa' sih mau masuk surga tanpa hisab kita tidak mau cari tahu

Link http://muslimafiyah.com/masuk-surga-tanpa-hisab.html
.
Penyusun: Raehanul Bahraen

April 01, 2019

ISRA' MI'RAJ BUKAN HARI RAYA ISLAM..!!

💥⚠ ISRA' MI'RAJ BUKAN HARI RAYA ISLAM..!!



✍🏼 Asy-Syaikh al-Allamah Dr. Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

‏الاحتفال بالإسراء والمعراج ليلة سبع وعشرين من رجب ليس من الدين في شيء، وإنما هو من البدع المحدثة.

أولا: تحديد الليلة بدون دليل.

وثانيا: لو ثبت أنها هي ليلة الإسراء والمعراج، فالله جل وعلا لم يشرع لنا أن نحتفل فيها.

Merayakan Isra' Mi'raj pada malam ke-27 Rajab bukan termasuk bagian agama sama sekali, tetapi termasuk bid'ah yang diada-adakan. Alasannya:

● Pertama: Penentuan malam tersebut tidak berdasarkan dalil.

● Kedua: Seandainya dipastikan bahwa pada malam tersebut terjadi peristiwa Isra' Mi'raj, namun Allah Jalla wa Ala tidak pernah mensyariatkan kepada kita agar kita memperingatinya pada malam tersebut.

🌍 Sumber || https://twitter.com/SFawzaan/status/984435315392876546?s=19

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:

من قال أنها ليلة سبع وعشرين من ‎رجب قول باطل لا أساس له في الأحاديث الصحيحة.

"Siapa yang mengatakan bahwa hal itu (Isra' Mi'raj) terjadi pada malam ke-27 di bulan Rajab maka itu adalah ucapan batil yang tidak memiliki dasar dalam hadits-hadits yang shahih."

📚 Majmu'ul Fatawa, jilid 1 hlm. 192

🌍 Sumber || https://twitter.com/alsunna_way/status/983873789082693632?s=19

Bermakmum Kepada Imam Yang Tidak Mengeraskan Bacaan Saat Shalat Jahriyah

# *Bermakmum Kepada Imam Yang Tidak Mengeraskan Bacaan Saat Shalat Jahriyah*

Pertanyaan

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz, saya mau tanya,

1. Apa hukumnya bagi laki-laki mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan ayat-ayat pendek di saat shalat?

2. Apa hukumnya bermakmum kepada imam yang tidak mengeraskan bacaannya? (pada shalat maghrib, isya, subuh.)
Lalu bagaimana solusinya jika tidak ada imam lain?

Syukron..
Wassalammu’alaykum

(Fulanah – Banda Aceh, Sahabat BiAS T06 G-01)


Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

1. Jika ia menjadi imam maka ia mengeraskan bacaannya di shalat maghrib, isya’ dan subuh. Sisanya berupa shalat duhur, asar tidak dikeraskan.

Tapi jika ia makmum atau shalat sendiri ia tidak mengeraskan bacaannya, wallahu a’lam.

2. Shalatnya sah tetapi menyelisihi sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika kita termasuk orang yang memegang tampuk kepemimpinan di mesjid, imam seperti ini harus di ganti.

Imam Ibnu Utsaimin ditanya :

هل يجوز قلب الصلاة السرية إلى جهرية والعكس ؟

“Apakah boleh membalik shalat sirriyah (pelan) menjadi jahriyah (keras bacaannya) atau sebaliknya?

Jawaban :

” خلاف السنة , وإن اتخذ الإنسان ذلك سنة ، قلنا : أنت مبتدع , يعني : لو جهر في صلاة الظهر على أن هذا سنة ، قلنا : أنت مبتدع , وإذا كان إماماً : عزلناه ، ما لم يتب , وإذا أسر في الجهرية واعتقد أن هذا سنة قلنا : هذه بدعة , وعزلناه ما لم يتب , لكن ليعلم أن الرسول صلى الله عليه وسلم في الصلاة السرية يُسمع الصحابة الآية أحياناً , فينبغي للإمام ، لا للمأموم ، في الصلاة السرية أحياناً : أن يسمع المأمومين القراءة , لينبههم على أنه يقرأ “

“Ini menyelisihi sunnah, jika ada manusia menjadikan hal ini sebagai sunnah (kebiasaan), kami katakan dia ini ahli bid’ah. Maksudnya jika ia mengeraskan bacaan di shalat dhuhur dan meyakini hal tersebut menjadi sunnah, kami katakan kamu ini ahli bidah. Dan kita mencopotnya dari imam jika ia tidak bertobat.

Jika ia melirihkan bacaan di shalat jahriyah (salat yang dikeraskan bacaannya, -pent) dan menganggapnya sebagai sunnah, kami katakan kamu ini ahli bid’ah. Dan kita mencopotnya dari imam jika ia tidak bertaubat.

Tapi hendaknya diketahui bahwa Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam pada shalat sirriyah/pelan, beliau memperdengarkan bacaannya kepada para sahabat kadang-kadang.

Maka sepatutnya bagi imam, bukan bagi makmum, untuk memperdengarkan bacaan pada shalat sirriyah sesekali (memperdengarkan sebagian ayat, bukan pada keseluruhan surat yang ia baca, -pent) untuk mengisyaratkan pada makmum bahwa ia membaca.” (Liqa’ Babul Maftuh : 23/109).

Pada kasus kita kali ini, hendaknya imam dinasehati untuk tidak melakukan penyelisihan sunnah. Jika ia ngeyel hendaknya pihak yang berwenang mencopotnya dari jabatan imam tersebut. Jika tidak memungkinkan diganti lebih baik shalat di lokasi lain yang lebih mencocoki sunnah dalam hal ini, dengan tetap shalat bersamanya di masjid kita tersebut pada shalat-shalat sirriyah, agar tidak menimbulkan kesan ekslusif/memisahkan diri di mata masyarakat sekitar kita

Wallahu a’lam.



Dijawab dengan ringkas oleh :

 Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Senin, 21 Shafar 1438 H / 21 November 2016 M



Referensi: https://bimbinganislam.com/bermakmum-kepada-imam-yang-tidak-mengeraskan-bacaan-saat-shalat-jahriyah/



📡 _Published by :_
*Radio Hiجrahfm 107.7 MHz*

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

📻 ```Join Group WhatsApp Radio Hiجrahfm 107.7 MHz
(  Khusus Akhwat  )```


https://chat.whatsapp.com/9gN6dictd9a1AgQR3kSMbZ

Isti'anah dan Isti'adzah

*Isti'anah dan Isti'adzah*


Tanya : Mohon untuk dijelaskan tentang hukum-hukum memohon pertolongan (isti’anah) dan memohon perlindungan (isti’adzah) dalam syari’at Islam.


Jawab : *Isti’anah adalah memohon pertolongan.*

*Bentuk isti’anah ada beberapa macam :*


Pertama : Memohon pertolongan kepada Allah, yaitu permohonan yang mengandung kerendahan diri yang sempurna dari seorang hamba kepada Rabb-nya, menyerahkan semua urusan kepada-Nya dan meyakini hanya Dia-lah yang bisa mencukupinya. Isti’anah semacam ini tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya kepada Allah.


Dalilnya adalah firman Allah :

إِيّاكَ نَعْبُدُ وإِيّاكَ نَسْتَعِينُ


”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan (isti’anah)” [QS. Al-Fatihah : 5].


Hal yang menunjukkan pengkhususan (isti’anah kepada Allah) dalam ayat ini adalah didahulukannya objek penderita yang berupa kata [إِيّاكَ]. Dalam tata bahasa Arab mendahulukan sesuatu yang semestinya diakhirkan menunjukkan pembatasan dan pengkhususan. Oleh karena itu, barangsiapa yang memalingkan hal tersebut kepada selain Allah maka ia telah berbuat kemusyrikan yang dapat menjadikannya keluar dari agama.


Kedua : Memohon pertolongan kepada makhluk yang ia mampu untuk melakukan. Ini tergantung macam pertolongan yang ia minta.
Jika dalam kebaikan maka hal tersebut diperbolehkan bagi yang minta tolong dan dianjurkan bagi yang menolong, berdasarkan firman Allah :

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرّ وَالتّقْوَىَ


”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa” [QS. Al-Maaidah : 2].


Jika pertolongan tersebut dalam kemaksiatan maka keduanya mendapat dosa berdasarkan firman Allah :

وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ


“Dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan” [QS. Al-Maidah : 2].


Apabila pertolongan tersebut terhadap sesuatu yang mubah, maka dibolehkan bagi kedua belah pihak dan mungkin si penolong mendapatkan pahala atas kebaikan yang ia lakukan untuk orang lain. Bagi yang dimintai pertolongan dianjurkan syara’ untuk menolong berdasarkan firman Allah ta’ala :

َأَحْسِنُوَاْ إِنّ اللّهَ يُحِبّ الْمُحْسِنِينَ


”Berbuat baiklah, sesungguhnya Allah senang terhadap orang-orang yang berbuat baik” [QS. Al-Baqarah : 195].


Ketiga : Memohon pertolongan kepada makhluk hidup yang ada di hadapannya, tapi tidak mampu memberikan pertolongan. Ini jelas suatu kesia-siaan karena dia tidak memiliki kuasa. Hal ini seperti halnya orang yang meminta tolong kepada orang yang lemah untuk mengangkat beban yang berat.


Keempat : Memohon pertolongan kepada orang mati secara mutlak atau kepada orang hidup dalam masalah ghaib, dimana ia tidak mampu melakukannya. Ini jelas syirik, karena hal tersebut terjadi dari keyakinan bahwa orang yang dimintai pertolongan tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa di alam ini.


Kelima : Menjadikan amal shalih dan hal-hal yang dicintai Allah sebagai penolong. Hal seperti ini dianjurkan berdasarkan perintah Allah dalam firman-Nya :

اسْتَعِينُواْ بِالصّبْرِ وَالصّلاَةِ


“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu” [QS. Al-Baqarah : 153].


Adapun *Isti’adzah artinya memohon perlindungan dan penjagaan dari hal yang dihindari.*

*Isti’adzah ada beberapa macam :*


Pertama : Isti’adzah (mohon perlindungan) kepada Allah yang mengandung sikap membutuhkan benar-benar, hanya kepadanya tempat bergantung, hanya Dia yang mencukupi segala sesuatu serta hanya Dia tempat berlindung yang sempurna dari segala sesuatu yang sedang atau akan terjadi, kecil atau besar. Baik datang dari manusia atau yang lainnya.

Berdasarkan firman Allah :

قُلْ أَعُوذُ بِرَبّ الْفَلَقِ * مِن شَرّ مَا خَلَقَ


”Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya” [QS. Al-Falaq : 1-2].


Dan juga firman-Nya :

قُلْ أَعُوذُ بِرَبّ النّاسِ * مَلِكِ النّاسِ * إِلَـَهِ النّاسِ * مِن شَرّ الْوَسْوَاسِ الْخَنّاسِ * الّذِى يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النّاسِ * مِنَ الْجِنّةِ وَالنّاسِ


”Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia” [QS. A-Naas : 1-6].


Kedua : Mohon perlindungan kepada Allah dengan sifat-Nya, seperti kalam-Nya, kemuliaan-Nya, keagungan-Nya, atau semisalnya; berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَق


“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2708].


Dan juga sabda beliau :

أَعُوذُ بِعِظْمَتِكَ أَنْ أَغتَال مِنْ تَحْتِي


“Aku berlindung dengan keagungan-Mu dari terbinasakan dari arah bawahku” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/25 dan An-Nasa’i 8/677).


Dan dalam doa ketika sakit :

أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِد


“Aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari keburukan yang aku temui” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/217, Abu Dawud no. 3891, dan Ibnu Majah no. 2522].


Dan sabda beliau yang lain :

أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ


“Aku berlindung dengan ridla-Mu dari kemurkaan-Mu” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 486].


Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika turun ayat :

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىَ أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ


“Katakanlah : Dialah yang bekuasa untuk menimpakan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu ke dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain” (QS. Al-An’am : 65);
maka beliau bersabda :
أَعُوذُ بِوَجْهِكَ
“Aku berlindung dengan Wajah-Mu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Kitaabul-I’tisham, bab firman Allah : Atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan yang saling bertentangan – no. : 6883].


Ketiga : Mohon perlindungan kepada orang mati atau hidup yang tidak hadir di hadapannya dan tidak mampu memberikan perlindungan.
Ini termasuk syirik, berdasarkan firman Allah :

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً


“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin-jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” [QS. Al-Jin : 6].


Keempat : Memohon perlindungan kepada sesuatu yang mungkin dapat dijadikan tempat berlindung, baik manusia, tempat, atau yang lainnya.
Hal ini diperbolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebut fitnah :

من تشرف لها تستشرفه فمن وجد فيها ملجأ أو معاذا فليعذ به


“Barangsiapa yang mencari-carinya ia akan terjerat olehnya dan barangsiapa yang mendapat tempat berlindung atau berteduh maka hendaklah ia berlindung dengannya” [Muttafaqun ‘alaihi].


Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bentuk perlindungan ini dengan sabdanya :

فمن كان له إبل فليلحق بإبله


“Siapa yang yang memiliki onta, maka hendaklah menggunakan ontanya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2887].


Dalam Shahih Muslim disebutkan dari Jabir, bahwa seorang wanita dari Bani Makhzum melakukan pencurian lalu dihadapkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan kemudian ia minta perlindungan kepada Ummu Salamah [Diriwayatkan oleh Muslim, Kitaabul-Hudud, bab “Pemotongan Tangan Pencuri Terhormat”].


Dalam Shahih Muslim juga dari Ummu Salamah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

يَعُوذُ عَائِذ بِاْلبَيْتِ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْث


“Ada orang yang berlindung dengan Ka’bah, lalu dikirimlah suatu utusan kepadanya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2882].


Jika seseorang minta perlindungan dari kejahatan orang dhalim maka kita wajib melindunginya sebatas kemampuan yang kita miliki. Akan tetapi jika dia minta perlindungan untuk tujuan melakukan kemunkaran atau melarikan diri dari menunaikan kewajibannya, maka haram bagi kita melindunginya.

Wallaahu a’lam

BELAJAR AGAMA Tidak MENCUKUPKAN Dengan SATU GURU SAJA Apalagi FANATIK

# *BELAJAR AGAMA Tidak MENCUKUPKAN Dengan SATU GURU SAJA Apalagi FANATIK*


Hendaknya kita sebagai penuntut ilmu agama bersemangat mencari guru yang bisa mengajarkan kita kebaikan dunia dan akhirat. Karena belajar dengan guru akan membuat kita lebih meudah dan lebih cepat memahami serta ada yang membimbing.

Akan tetapi Kita selayaknya tidak mencukupkan diri dengan satu guru saja, karena ilmu itu sangat luas, sampai-sampai ulama berkata, salah satunya adalah Hammad bin Zaid rahimahullah berkata,

إنك لا تعرف خطأ معلمك حتى تجالس غيره

“sesungguhnya engkau tidak mengetahui kesalahan gurumu sampai engkau berguru dengan yang lain.”[1]

Berikut beberapa kisah ulama dengan jumlah guru mereka yang sangat banyak:

Dari *Abdurrahman bin Abi Abdillah bin Mandah berkata,*

وسمعت أبي يقول: كتبت عن ألف وسبعمائة. قال جعفر المستغفري: ما رأيت أحدًا أحفظ من أبي عبد الله بن منده، سألته يومًا: كم يكون سماعات الشيخ؟ قال: تكون خمسة آلاف منّ. قلت: المنّ يجيء عشرة أجزاء كبار.

“saya mendengar ayahku berkata, “saya menulis/belajar dari 1.700 guru”. Ja’far Al-Mustaghfiri berkata, “saya tidak melihat seseorangpun yang lebih hapal dari Abu Abdillah bin Mandah, saya bertanya kepadanya suatu hari, “berapa yang anda pelajari dari para syaikh?”. Beliau berkata, “lima ribu mann”. Azd-Dzahabi berkata, “ satu mann sama dengan 10 juz besar”.[2]

*Ibnu An-Najjar berkata,*

سمعت من يذكر أن عدد شيوخه سبعة آلاف شيخ وهذا شيء لم يبلغه أحد، وكان مليح التصانيف كثير النشوار والأناشيد لطيف المزاح ظريفًا حافظًا واسع الرحلة ثقة صدوقًا دينًا سمع منه مشايخه وأقرانه وحدثنا عنه جماعة

“saya mendengar ada yang mengatakan bahwa gurunya 7.000 syaikh dan tidak ada yang seperti ini. Karangannya sangat menarik dan tersebar/ dia juga menulis syair ringan dan menghibur, seorang hafidz, sering berpetualang (menuntut ilmu), terpercaya dan jujur. Para guru dan orang yang sezaman dengannya belajar dari beliau dan begitupula sejumlah perawi.”[3]

*Ibnu As-Sa’iy berkata tentang Ibnu An-Najjar,*

قال ابن الساعي: اشتملت مشيخته على ثلاثة آلاف شيخ وأربع مائة امرأة

“para guru Ibnu An-Najjar mencapai 3.000 syaikh dan 400 guru wanita.”[4]

Demikian *semoga bermanfaat*

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

@Perpus FK UGM, Yogyakarta Tercinta

Penyusun:  *Raehanul Bahraen*

Artikel www.muslimafiyah.com

Maret 31, 2019

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM ADZAN DAN IQOMAH YANG HARUS DI KETAHUI

*📚KESALAHAN-KESALAHAN DALAM ADZAN DAN IQOMAH YANG HARUS DI KETAHUI*

*⛔Membaca surah al-Ahzab ayat 56 sebelum adzan.*

Kesalahan yang banyak dilakukan oleh para muadzin di beberapa masjid di negeri ini yaitu membaca ayat 56 surah al-Ahzab sebelum adzan:
” Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56).

*Bacaan ayat Al-Qur’an tersebut sebelum adzan adalah perbuatan bid’ah dhalallah (perkara baru yang buruk) karena tidak ada contoh atau tuntunannya dari Rasulullah, para shahabatnya (terutama para muadzin zaman Nabi), para ulama salafus sholeh lainnya dan juga tidak pernah diajarkan oleh para imam Mahdzab yang empat (Maliki, Hanafi, Hambali, Syafi’i). Justru yang dituntunkan oleh Rasulullah adalah bersholawat setelah adzan dan berdo’a sesudahnya.*

*⛔Tidak mengulang lafadz adzan dan iqomah bersama muadzin.*

Termasuk kesalahan yang sudah memasyarakat yaitu lengahnya kaum muslimin menjawab atau mengulangi lafadz dari seruan muadzin dan sibuk berbicara dengan lainnya dalam urusan dunia.

 *Padahal Nabi sangat menganjurkan hal ini dengan sabda beliau: “ Bila kalian mendengar seruan (adzan), maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muadzin” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)*→Walaupun hal ini tidak wajib (tidak berdosa bagi yang meninggalkannya) tetapi kita harus beradab terhadap seruan adzan karena sunnah.

*⛔Tidak bersholawat kepada Nabi setelah adzan*

Kebanyakan kaum muslimin lupa akan hak yang teringan dari hak-hak Nabi atas umat beliau, yaitu bershalawat kepada beliau setelah adzan.

*Nabi bersabda: “Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya. Kemudian ucapkanlah sholawat kepadaku, karena siapa yang mengucapkan sholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali…” (HR. Muslim (2/4) dan At-Tirmidzi (2/282))*

*⛔Tergesa-gesa dalam mengumandangkan iqomah setelah adzan pada waktu sholat maghrib*

Kesalahan yang banyak terjadi di masjid-masjid / musholla adalah pada waktu sholat maghrib berjama’ah, muadzin tergesa-gesa dalam mengumandangkan iqomah padahal baru selesai adzan.

Sebagian mereka beralasan bahwa waktu maghrib itu singkat, jadi harus segera sholat. Sesungguhnya ini adalah keyakinan dan perbuatan yang salah karena perkara ini menolak suatu kebaikan.

*Padahal Rasulullah menganjurkan apabila masuk ke masjid hendaknya melakukan sholat Tahiyatul masjid bagi jama’ah yang baru datang ke masjid setelah adzan (sesuai Hadits Nabi yang keluarkan oleh Al-Bukhari no. 444) atau disunnahkan melakukan sholat qabliyah (sebelum) maghrib sesuai sabda Nabi: “Sholatlah kalian sebelum sholat maghrib (3kali), Pada kali ketiga, beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau.” (HR. Al-Bukhari)*

*⛔Menambah kalimat pada do’a setelah adzan:*

*"Wad Darajatal ‘Aliyatar Rafi’ah…” dan “Ya arhamar Rahimin”*

*Tambahan lafadz tersebut dalam do’a sesudah adzan tidak ada karena tidak diriwayatkan dalam hadits Nabi yang shahih.*

*📚Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentang hal ini: “Kalimat waddarajatur rafi’ah tidak memiliki jalan (riwayat dalam hadits) sedikitpun. Ar-Rafi’I menambahkan di akhir adzan dalam Al-Muharrar dengan lafadz: “Ya Arhamar Rahimin”, lafadz ini juga tidak memiliki jalan sedikitpun.” (Lihat Kitab At-Talkhishul Habir (1/201), Al-Aqashid Al-Hasanah hal.212).*

Maka langkah yang perlu diambil sebagai seorang muslim yang baik adalah meninggalkan tambahan lafadz tersebut supaya tidak terjerumus dalam perkara bid’ah.

*⛔Mengulang lafazh adzan di dalam WC.*

*📚Imam Nawawi Asy-Syafi’I berkata:”Makruh (dibenci) berdzikir kepada Allah Ta’ala atau berbicara sesuatu sebelum keluar darinya (WC), kecuali dalam keadaan darurat. Jika ia bersin, hendaklah bertahmid dengan hatinya dan tidak perlu menggerakkan lidahnya.” (Lihat Kitab RaudhatuAth-Thalibin (1/66))*

*⛔Mengumandangkan adzan dengan radio atau kaget.*

*⛔Kesalahan dalam adzan dan melagukannya, sehingga merubah huruf-huruf, harakat-harakat dan sukun-sukun, terkurangi dan bertambah dalam rangka menjaga keserasian lagu.*

*Semoga Allah merahmati Imam Al-Qurthubi, bahwa ia berkata: “ Hukum muadzin yang memanjangkan adzan adalah tidak boleh melagukannya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh kebanyakan orang-orang awam pada hari ini. Bahkan kebanyakan orang awam dalam mengumandangkan adzan telah keluar dari batasan yang disyariatkan.*

*Dalam mengumandangkan nada adzan tersebut mereka melakukan pengulangan-pengulangan dan banyak pemutusan, sehingga apa yang dia serukan tidak bisa dipahami.” (Kitab tafsir Qurthubi (6/230) dan lihat juga Al-Madkhal (3/249), Ad-Dinul Khalish (2/92)*

*🚫Beriqomah sholat dalam keadaan badan membelakangi Kiblat atau sambil berjalan, seharusnya menghadap arah kiblat dan berdiri dengan diam / tidak berjalan dan masih banyak yang lainnya.*

*Demikianlah sedikit uraian untuk mengenal sunnah dalam adzan dan iqomah serta kesalahan-kesalahan yang sering terjadi di daerah sekitar kita, semoga kita bisa mengambil faidah dan bisa mengamalkan sunnah dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bishshowab.*

➖➖➖➖🌴🌴🌴🌴🌴➖➖➖➖

*Maraji’ :*

_Diringkas dengan perubahan dari Kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah (Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam) oleh Syaikh Khalid Al-Husainan; Kitab Hisnul Muslim oleh Syaikh Said bin Ali Al Qathani; Kitab Minhajul Muslim oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi; Kitab Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’il Mushallin oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman; Kitab Irsyadus Salikin ila Akhtha’i Ba’dhil Mushallin oleh Abu ‘Ammar Mahmud Al-Misri, Majalah Asy-Syariah Vol. V/No. 49/1430 H/2009M._
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*📝Abu Umair Abdurr'auf Al Baganiy*

Bolehkah menanam pohon di sekitar masjid?

*Bolehkah menanam pohon di sekitar masjid?*

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mayoritas ulama melarang (memakruhkan) menanam pohon di masjid. Bahkan sebagian mereka berpendapat bahwa itu haram. Ada juga yang berpendapat bahwa menanam pohon di halaman masjid menjadi haram, jika mengganggu masjid.

Ibnu Qudamah menjelaskan,

ولا يجوز أن يغرس في المسجد شجرة. نص عليه أحمد, وقال : إن كانت غرست النخلة بعد أن صار مسجدا , فهذه غرست بغير حق , فلا أحب الأكل منها , ولو قلعها الإمام لجاز; وذلك لأن المسجد لم يبن لهذا, وإنما بني لذكر الله والصلاة وقراءة القران

Tidak boleh menanam pohon di sekitar masjid, demikian yang ditegaskan Imam Ahmad. Beliau mengatakan,

“Jika orang menanam pohon setelah ada masjid, maka orang ini menanam tanpa hak, saya tidak suka untuk memakannya, dan jika imam mencabutnya, hukumnya boleh. Karena masjid tidak dibangun untuk ini, namun dibangun untuk dzikrullah, shalat, dan membaca al-Quran.”

Beliau melanjutkan,

ولأن الشجرة تؤذي المسجد وتمنع المصلين من الصلاة في موضعها , ويسقط ورقها في المسجد وثمرها, وتسقط عليها العصافير والطير فتبول في المسجد

Karena pohon bisa mengganggu masjid dan menghalangi orang untuk bisa shalat di tempat yang semestinya. Disamping itu, dedaunan atau buahnya pohon bisa berjatuhan di masjid, demikian pula burung-burung berdatangan dan mengotori masjid. (al-Mughni, 5/370).

Demikian dinyatakan dalam al-Fatawa al-Hindiyah,

ويكره غرس الشجر في المسجد ; لأنه تشبه بالبيعة وتشغل مكان الصلاة ، إلا أن يكون فيه منفعة للمسجد بأن كانت الأرض نزة لا تستقر أساطينها فيغرس فيه الشجر ليقل النز

Makruh menanam pohon di masjid, karena ini menyerupai baiat dan mengganggu tempat shalat. Kecuali jika pohon itu bermanfaat bagi masjid, misalnya tanahnya labil, sehingga pondasi masjid menjadi tidak stabil, sehingga butuh ditanami pohon untuk mengurangi kadar labilnya tanah. (al-Fatawa al-Hindiyah, 1/110)

Keterangan lain disampaikan Zakariya al-Anshari,

ويكره ( حفر بئر وغرس شجر فيه ) بل إن حصل بذلك ضرر حرم ( فيزيله الإمام ) لئلا يضيق على المصلين هذا , وقد قال الأذرعي في غرس الشجرة في المسجد الصحيح تحريمه لما فيه من تحجير موضع الصلاة

Makruh menggali sumur atau menanam pohon di masjid. Bahkan jika itu mengganggu, hukumnya haram, sehingga imam berhak untuk menebangnya, agar tidak mengganggu orang yang shalat. al-Adzru’I mengatakan mengenai menanam pohon di masjid, bahwa  yang benar diharamkan, karena bisa mempersempit tempat shalat. (Asna al-Mathalib, 1/186).

Keterangan di atas berlaku, jika masjid ada lebih dahulu baru ditanam pohonnya. Namun jika sebelumnya ada pohon, kemudian di tanah itu pemiliknya membangun masjid, dibolehkan.

Ibnu Qudamah mengatakan,

فأما إن كانت النخلة في أرض , فجعلها صاحبها مسجدا والنخلة فيها فلا بأس

Jika ada pohon kurma di sebidang tanah, kemudian pemiliknya membangun masjid, dan pohon kurma itu tetap ada di sana, tidak masalah.

Berdasarkan keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa para ulama melarang menanam pohon di masjid, karena beberapa alasan, diantaranya:

[1] Masjid tidak dibangun untuk menanam pohon dan diambil buahnya.

[2] Pepohonan tersebut bisa mempersempit bangunan masjid

[3] Keberadaan pohon bisa mengotori masjid, karena daunnya ataupun binatang yang berkeliaran di masjid.

Karena itu, jika pohon tersebut tidak bersambung dengan masjid, seperti di tempat parkir, sehingga tidak mengganggu fisik masjid, dan para jamaah konsisten untuk selalu membersihkannya, sehingga tidak mengganggu jamaah masjid, tidak masalah. (Fatwa Islam, no. 96101)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•
*📻ᎡᎬᏢϴՏͲ ᎡᎪᎠᏆϴ ᎷႮՏᏞᏆᎷ*
              *837ᎪᎷ ᎫᎪᏦᎪᎡͲᎪ*
```🎙Simak Siaran Kami pada Frekwensi AM 837 KHz atau
Via Streaming di :
Website``` : *www.radiomuslim.co.id*
Android    : *bit.ly/APLIKASI-RADIO*
*_📡radiomuslimAM837khz dipancarkan dari_*:
Jl. Swadaya I kel. Pondok Ranggon, Cipayung, Kota Jakarta Timur
*🌐Peta Lokasi* :
bit.ly/ALAMAT-RADIO
•┈┈┈┈•••✦✿✦•••┈┈┈┈•
*Ayo..‼ dukung radio muslim dengan mengikuti program*
🇦 🇮 🇷 🇮 🇳
klik disini 👉bit.ly/2oJxOEy👈
•┈┈┈┈•••✦✿✦•••┈┈┈┈•
_*JOIN,FOLLOW,LIKE,SUBSCRIBE & SHARE*_
👇👇🏻👇🏼Klik Disini👇🏽👇🏾👇🏿
*Instagram*           : bit.ly/i-837AM
*Youtube*              : bit.ly/Y-837AM
*Fanpages*            : bit.ly/F-837AM
*Telagram*            : bit.ly/TL-837AM
*Twitter*                : bit.ly/TW-837AM
*Grup facebook*   : bit.ly/2NiRHA7
*Grup wa ikhwan* : bit.ly/2NfxWt5
*Grup wa akhwat* : bit.ly/2CkdCm1
•┈┈┈•••○○❁🌿❁○○•••••┈┈┈•

APAKAH MENCIUM MUSHAF AL QUR’AN ADALAH SUNNAH?

📒 *APAKAH MENCIUM MUSHAF AL QUR’AN ADALAH SUNNAH?*


✍🏻 Oleh Ustadz Berik Said Hafizhahullah


```Kamu pernah enggak mencium mushaf Al Qur’an, atau menempelkannya di kening, atau mendekapnya di dada setiap kali akan atau selesai membacanya sebagai atas nama kecintaan terhadap Al Qur’an ?```

Kalaupun belum, kamu pernah tidak melihat mereka yang pernah melakukannya ?

*Nah apakah hal ini termasuk sunnah ?*
Insya Allah dalam risalah ini ana secara ringkas akan mengulasnya, semoga bermanfaat….

🎙 Fatwa Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah:

تقبيل المصحف بدعة

*"Mencium mushaf (Al Qur’an) adalah BID”AH.*

لأن هذا المقبل إنما أراد التقرب إلى الله عز وجل بتقبيله

*Hal ini karena orang yang mencium mushaf Al Qur'an, saat menciumnya bertujuan sebagai bentuk taqarrub kepada Allah (peribadatan).*

ومعلوم أنه لا يتقرب إلى الله إلا بما شرعه الله عز وجل

Padahal telah ma’lum bahwasanya *tak boleh melakukan taqarrub kepada Allah (peribadatan) kecuali dengan apa yang disyariatkan oleh Allah 'Azza wa Jalla.*

ولم يشرع الله تعالى تقبيل ما كتب فيه كلامه

Dan Allah Ta’ala *tidaklah mensyariatkan untuk mencium apa yang didalamnya tertulis kalam-Nya (mushaf).*

وفي عهد النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم كتب القرآن لكنه لم يجمع إنما كتب فيه آيات مكتوبة

```Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Al Qur’an juga telah ditulis (di atas pelepah dan sebagainya -pent) walau masih dalam lembaran yang masih berserakan, belum terhimpun.```

ومع ذلك لم يكن يقبلها صلى الله عليه وعلى آله وسلم ولم يكن الصحابة يقبلونها

Namun bersamaan dengan itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam *tak pernah menciumnya* _(lembaran yang bertuliskan ayat Qur’an –pent),_ dan para shahabat radhiyallahu ‘anhum pun *tak ada yang pernah menciumnya.*

فهي بدعة

Maka (ini semua menunjukkan) *bahwa hal itu adalah bid'ah.*

وينهى عنها

*Dan mesti dicegah dari melakukannya.*

ثم إن بعض الناس أراه يقبله ويضع جبهته عليه كأنما يسجد عليه

```Lantas ada sebagian manusia yang aku melihat dia mencium mushaf tersebut dan bahkan lalu neletakkan mushaf tersebut pada keningnya, seakan-akan ia sedang bersujud  padanya.```

وهذا أيضا منكر.

Maka ini juga (termasuk perbuatan yang) *munkar."*
_(Fataawaa Nuur ‘alaa darb li Syaikh al ‘Utsaimin rahimahullah I:42)_

Dalam kesempatan lain saat Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah ditanya tentang adakah periwayat dari shahabat radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka mencium mushaf Al Qur’an atau mendekap Al Qur'an itu di dada?

🎙 Maka Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah menjawab:

لا أظنه يصح عن الصحابة,

_"Aku tidak menganggap ada informasi yang shahih dari (seorang) shahabat pun (bahwa mereka pernah mencium mushaf atau mendekapkannya di dada sebagai bentuk peribadatan –pent)._

هذا بدعة محدثة أخيراً,

Ini adalah *bid'ah yang diada-adakan di era belakangan ini.*

والصواب أنها بدعة وأنه لا يقبل,

Dan yang benar bahwa hal tersebut adalah suatu perkara *Bid'ah* dan *tak boleh menciumnya.*

ولا شيء من الجمادات يقبل إلا شيء واحد وهو الحجر الأسود,

*Tak ada satupun benda mati yang boleh dicium sebagai bentuk peribadatan kecuali satu, yakni : hajar aswad.*

وغيره لا يقبل.

*Selain hajar aswad, maka tak boleh ada benda lain yang dicium* _(sebagai bentuk peribadatan –pent)._

احترام المصحف حقيقة بألا تمسه إلا على طهارة,

*Memuliakan mushaf Al Qur'an yang hakiki* _(sebab biasanya inilah alasan yang digunakan mereka yang menganggap sunnah mencium Mushaf Al Qur’an atau menempelkan di keningnya atau mendekapkannya di dada –pent)_ *adalah dengan tak menyentuhnya kecuali dalam keadaan suci.*

وأن تعمل بما فيه.

*Dan engkau beramal dengan apa yang ada didalamnya (tuntunan Al Qur'an –pent).*

تصديقاً للأخبار

*Membenarkan segala apa yang dikabarkan Al Qur'an.*

وامتثالاً لأوامره

*Mengerjakan segala perintahnya (yang terdapat dalam Al Qur'an).*

واجتناباً لنواهيه.

Serta *menjauhi segala larangannya* (maka inilah *hakekat memuliakan Al Qur'an* –pent)."
https://www.sahab.net/forums/index.php =92730

🎙 Fatwa Syaikh Al Albani rahimahullah:
Saat ditanya tentang hukum mencium mushaf Al Qur’an, maka beliau menjawab – diantaranya:

هذا مما يدخل – في اعتقادنا – في عموم الأحاديث التي منها

"Menurut keyakinan kami, bahwa perbuatan ini termasuk pada keumuman hadits yang di mana di dalamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

( إياكم ومحدثات الأمور , فإن كل محدثة بدعة , وكل بدعة ضلالة )

*“Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara (ibadah) yang diada-adakan, sebab semua ibadah yang diada-adakan adalah bid'ah dan semua bid'ah adalah sesat.*

وفي حديث آخر

Dalam hadits lain disebutkan:

كل ضلالة في النار

*“Dan semua kesesatan tempatnya di neraka.“*

فكثير من الناس لهم موقف خاص من مثل هذه الجزئية , يقولون : وماذا في ذلك ؟! ما هو إلا إظهار تبجيل وتعظيم القران ,

Kebanyakan orang jika ditanya alasan *apa yang melatarbelakangi hal ini?* _maka mereka akan mengatakan bahwa mencium mushaf adalah sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan terhadap Al Qur'an._

ونحن نقول صدقتم ليس فيه إلا تبجيل وتعظيم القران الكريم !

```Maka kami katakana : “Benar … anda telah benar bahwa itu sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan terhadap Al Qur'an.```

ولكن تُرى هل هذا التبجيل والتعظيم كان خافياً على الجيل الأول -وهم صحابة الرسول صلى الله عليه وسلم- وكذلك أتباعهم وكذلك أتباع التابعين من بعدهم ؟

Tapi persoalannya adalah (Apabila cara menghormati dan mengagungkan Qur’an itu dengan cara menciumnya –pent) maka *mengapa cara ini* (kalau dianggap cara yang benar –pent) *tak pernah dilakukan oleh generasi utama ummat ini, yakni mereka para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga tidak dilakukan oleh generasi dibawahnya (tabi'in) dan tabi'ut tabi'in* (padahal mereka adalah generasi terbaik ummat, paling semangat agama, dan paling faham syari’at –pent) ?

لا شك أن الجواب سيكون كمال قال علماء السلف :

*Tidak diragukan (jika saja mencium mushaf Qur'an adalah sunnah, sudah barang tentu mereka akan bersegera mengamalkannya–pent)* sebagaimana perkataan salaf:

لو كان خيراُ لسبقونا إليه .

*“Seandainya suatu perkara (yang kalian anggap sebagai bagian dari agama itu memang benar-benar ada sumbernya yang shah dan benar-benar baik –pent) niscaya mereka (para sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah lebih dulu melakukannya !!“*
https://www.sahab.net/forums/index.php? =92730

◽ Sebagai penutup kami merasa alangkah bagusnya mencantumkan perkataan Syaikh Dr. Arafat bin Hasan Al Muhammadi hafizhahullah dalam masalah ini yang berkata:

تقبيل المصحف لم يكن مأثورا،

*"Mencium mushaf tidak memiliki landasan dalil.*

ولا صح عن أحد من الصحابة،

*Dan tidak ada informasi shahih seorang pun dari shahabat radhiyallahu ‘anhum (yang menunjukkan disukainya hal ini –pent).*

ولا يقاس على الحجر الأسود،

Dan hal ini *tidak bisa diqiaskan dengan (kebolehan) mencium hajar aswad!!* tidak.

ونص بعض الفقهاء على بدعيته،

_Dan sebagian ulama ahli fiqih menyatakan bahwa itu merupakan_ *bid'ah.*

وعجبت لمن يقبله ويخالفه ظاهرا وباطنا.

Dan *saya heran kepada mereka (yang atas nama mengagungkan, memuliakan dan cinta –pent) terhadap Qur'an menciumi mushafnya, namun ia menyelisihi Al Qur'an baik lahir maupun batinnya.*
https://twitter.com/Arafatbinhass…/status/787903278122164224

Walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin, wa shallallahu ‘alaa Muhammadin

🔰 @Manhaj_salaf1

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•


Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

TIBA-TIBA SAKIT TANPA SEBAB

📎 TIBA-TIBA SAKIT TANPA SEBAB

🔴 Saudaraku perkah engkau temui berita tentang keracunan masal? Padahal malam hari makanan baru dimasak segar dan bersih dengan porsi besar untuk dihidangkan pada acara pagi harinya..

🔴 Pernahkah pula engkau mendengar seorang yang sehat dan bugar yang sangat jarang sekali sakit, tiba-tiba mendadak sakit parah? Dan itu diketahui tatkala setelah cek lab medis, bahkan terkadang ada yang tidak terdeteksi secara medis..

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah sampaikan suatu kabar kepada kita..

فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةٌ يَنـْزِلُ فِيْهَا وَبَاءٌ لاَ يَمُرُّ بِإِناَءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلاَّ نَزَلَ فَيْهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ .

“Sesungguhnya dalam satu tahun terdapat satu malam yang turun pada malam itu wabah penyakit. Tidaklah wabah itu melewati bejana yang tidak ditutup atau wadah air yang tidak diikat, melainkan wabah itu akan turun padanya." (HR. Bukhari, 3/1195, 3106)

🔴 Bisa jadi itulah diantara sebabnya yaitu lupa/enggan menutup gelas minuman ataupun makanan kita di suatu malam (dimana bertepatan dengan turunnya wabah) tersebut.. Oleh karenanya Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda :

وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ

“Tutuplah pintu-pintu serta tutuplah bejana serta wadah-wadah makan dan minum kalian." (HR. Bukhori 5624)

وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهِ بِعُودٍ

“Tutuplah bejana serta tempat makan dan minum, walaupun hanya engkau taruh sepotong kayu di atasnya." (HR. Ahmad 14597)

👤 Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :  "Perintah Nabi Shallallahu alaihi wasallam untuk menutup bejana ini bertujuan untuk memperoleh keselamatan dari gangguan setan. Allah Ta'ala menjadikan hal itu sebagai sebab terhindarnya seorang hamba dari gangguannya, karena setan tidak bisa membuka bejana, jika sebab yang disebutkan tadi (dengan menyebut nama Allah) dilakukan." (Syarah Shahih Muslim, 13/185)

Tutuplah makan dan minummu.. jika tak engkau jumpai satu tutup pun untuk menutupnya, maka tutuplah meskipun dengan ranting/pen/pensil dan sebutlah nama Allah Ta'ala saat menutupnya..

Semoga Allah menjaga kita dalam kebaikan dan kesehatan..

_______________

📜 Penyusun | Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

📃 Disusun 10 Jumadal Akhirah 1438 H / 9 Maret 2017
@shahihfiqih




اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

*📆 Kamis, 21 Rajab 1440 H / 28 Maret 2019 M*



📡 _Published by :_
*Radio Hiجrahfm 107.7 MHz*

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

📻 ```Join Group WhatsApp Radio Hiجrahfm 107.7 MHz
(  Khusus Akhwat  )```


https://chat.whatsapp.com/9gN6dictd9a1AgQR3kSMbZ

Waktu Seperti Pedang

⏰ ⚔ *Waktu Seperti Pedang*❗

Banyak yang sering berkata,
"Aku nggak ada waktu !!!",
seakan-akan mereka di dalam sebuah kesibukan yang sangat bermanfaat…, akan tetapi kenyataannya ternyata masih banyak waktu kosong mereka…

Di lain pihak…banyak pula yang ingin "Membunuh waktu…"
karena waktu mereka yang sangat terbuang-buang..,
mereka bingung mau diapain waktu tersebut..??!!

Waktu itu ibarat pedang bermata ganda, bisa mendatangkan kebahagiaanmu dan bisa pula menjadi bumerang yang mendatangkan kesengsaraanmu.

Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah menyebutkan sebuah perkataan :


الْوَقْتُ سَيْفٌ فَإِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ، وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلْتَهَا بِالْحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ


"Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan." (Dinukil oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Jawaab Al-Kaafi hal 109 dan Madaarijus Saalikiin 3/129)

Jika facebook tidak kau gunakan untuk bertakwa kepada Allah maka akan kau gunakan untuk bermaksiat…!!!

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

"Waktu seseorang itulah hakekat umurnya, dialah penentu kehidupan abadinya (di kemudian hari), apakah dalam kenikmatan abadi ataukah dalam kehidupan sengsara dalam adzab abadi yang pedih…

Waktu berlalu lebih cepat dari aliran awan. Maka siapa saja yang waktunya dihabiskan untuk Allah dan karena Allah maka waktu itulah hakekat umur dan kehidupannya. Adapun selain itu (jika waktunya tidak dihabiskan untuk dan karena Allah) maka waktu tersebut pada hakekatnya bukanlah termasuk kehidupannya, akan tetapi kehidupannya laksana ibarat kehidupan hewan. Jika ia menghabiskan waktunya dalam kelalaian dan syahwat, serta angan-angan yang batil, dan waktu yang terbaiknya adalah yang ia gunakan untuk tidur dan nganggur maka matinya orang yang seperti ini lebih baik dari pada hidupnya." (Al-Jawaab Al-Kaafi hal 109)

Jika umur seseorang 60 tahun, dan setiap hari tidur 8 jam (1/3 waktunya), serta dikurangi masa kecil hingga baligh/dewasa (sekitar 15 tahun) maka hakekat umurnya yang bisa ia gunakan untuk beraktifitas hanyal tinggal 60-20-15 = 25 tahun. Lantas dari 25 tahun tersebut yang digunakan untuk bermain, bersenda gurau, bermaksiat?? Jika dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk beribadah??

Sungguh aneh jika seseorang merasa "Nggak ada waktu…terlalu sibuk" untuk bisa membaca Al-Qur'an setiap hari 1/4 atau 1/2 jam, atau tidak ada waktu untuk sholat dhuha ...menit.

Akan tetapi…. ternyata waktunya sangat luang -bahkan bisa berjam-jam- untuk main game atau facebookan…atau ketawa-ketiwi untuk berBBM, WhatsApp-an, dengan para sahabat…para group??!!

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


لَنْ تَزُوْلَ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ ؟....


"Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya tentang 4 perkara (diantaranya), tentang umurnya ….kemana ia habiskan?, tentang masa mudanya kemana ia habiskan?...."


🌐 Sumber : SalamDakwah.com


☕ Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya ☕
Barakallah fikum.
                                         
                                                                                               ✒ Ditulis oleh Ustadz DR. Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى.

                                                                                     
📡 _Published by :_
*Radio Hiجrahfm 107.7 MHz*

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

📻 ```Join Group WhatsApp Radio Hiجrahfm 107.7 MHz
(  Khusus Akhwat  )```


https://chat.whatsapp.com/9gN6dictd9a1AgQR3kSMbZ


fanpage fb :

https://www.facebook.com/salomengajicom/?referrer=whatsapp

Untuk sahabat yang punya kendaraan mobil pribadi

*Untuk sahabat yang punya kendaraan mobil pribadi
*
```Mau naik mobil?
O.K. boleh, buka semua kaca beberapa saat
lalu nyalakan AC selama beberapa menit, baru kemudikan kendaraan tersebut dapat ditutup kaca-kaca nya kembali```.
```Tidak heran, semakin banyak orang meninggal karena kanker.
Kita bertanya-tanya dari mana saja penyebabnya```?
```Disini ada sebuah contoh yang menjelaskan insiden-insiden yang dapat menyebabkan kanker```.
```Menurut sebuah penelitian, dashboard mobil,sofa, pengharum mobil bisa menghasilkan Benzene , racun penyebab kanker (karsinogen)```.
```Luangkanlah waktu dan amatilah bau plastik dashboard yang terkena panas```.
```Selain menyebabkan Kanker, Benzene meracuni tulang-tulang anda, menyebabkan Anemia dan menurunkan jumlah sel darah putih.
Bila terhirup terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan Leukemia,
masenambah resiko penyebab kanker```.
```Tingkat Benzene di dalam ruangan yang bisa ditoleransi sebesar 50mg/ft2```.
```Sebuah mobil yang terparkir di dalam ruangan dengan jendela tertutup akan mengandung 400-800 mg Benzene```.
Jika parkir di luar ruangan dibawah sinar matahari pada 15 derajat ke atas, tingkat Benzene naik hingga 2000-4000 mg, 40X dari tingkat Benzene yang bisa ditoleransi.
```Orang-orang yang sewaktu masuk ke dalam mobil, tidak membuka jendela sama sekali, berakibat akan menghirup banyak racun yang dengan sangat cepat masuk ke dalam tubuh anda.
Benzene adalah racun yang mempengaruhi ginjal dan hati... Buruknya, sangatlah sulit bagi tubuh untuk membasmi racun-racun tsb```.
```Jadi bukalah pintu dan jendela mobil sebelum anda masuk dan berilah waktu untuk racun-racun yg mematikan ini keluar, sebelum anda masuk ke dalam mobil```.
```Bagikanlah info ini kepada orang yang ada disekitar kita semoga dapat bermanfaat```
```sumber: Toyota Astrido```

Maret 25, 2019

HADITS-HADITS SHOHIH TENTANG KEUTAMAAN SURAT AL KAHFI

💌 *HADITS-HADITS SHOHIH TENTANG KEUTAMAAN SURAT AL KAHFI*


Surat Al-Kahfi merupakan salah satu surat Al-Quran Al-Karim yang mempunyai keagungan dan keutamaan dibanding beberapa surat yang lain. Akan tetapi tidak sedikit dari kaum muslimin yang belum mengetahui keagungan dan keutamaannya, sehingga sebagian mereka jarang atau bahkan hampir tidak pernah membaca dan menghafalnya. Terlebih khusus pada hari dan malam Jumat. Mereka lebih suka dan antusias membaca surat Yasin yang dikhususkan pada malam Jumat dengan harapan mendapatkan keutamaannya. Namun sayangnya, semua hadits yang menerangkan keutamaan surat Yasin tidak ada yang Shohih datangnya dari nabi shallallahu alaihi wasallam.

Demikianlah keadaan umat Islam. Tidaklah mereka bersemangat mengamalkan hadits-hadits lemah dan palsu serta tidak jelas asal-usulnya, maka sebanyak itu pula mereka meninggalkan amalan-amalan sunnah yang dijelaskan di dalam-hadits-hadits shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Adapun keutamaan dan keagungan surat Al-Kahfi, maka akan didapatkan oleh setiap muslim dan muslimah yang membacanya dengan niat ikhlas demi mengharap wajah dan ridho Allah, mengimani dan menghayati makna-maknanya serta berusaha mengamalkan hukum dan pelajaran yang terkandung di dalamnya sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Berikut ini kami akan sebutkan hadits-hadits shohih tentang keutamaan surat Al-Kahfi.


Hadits Pertama:

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka Allah akan menyinarinya dengan cahaya di antara dua Jum’at.”

(Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrok II/399 no.3392, dan Al-Baihaqi di dalam Sunannya III/249 dengan nomor.5792)

DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya SHOHIH.

Al-Hakim berkata: “Isnad Hadits ini shohih, akan tetapi imam Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya”.

Syaikh Al Albani berkata: “Hadits ini shohih.” (lihat Shohih Al-Jami’ no. 6470, dan Shohih At-Targhib wa At-Tarhib I/180no.736).


Hadits Kedua:

Dari Abu Darda’ radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “(sepuluh ayat terakhir) dari surat Al-Kahfi.”

(Diriwayatkan oleh Muslim I/555 no.809, Ahmad V/196 no.21760, Ibnu Hibban III/366 no.786, Al-Hakim II/399 no.3391, dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman V/453 no.2344).

DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya SHOHIH.

Syaikh Al Albani berkata: “Hadits ini shohih.” (lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah II/123 no.582).
Dan di dalam hadits lain dijelaskan maksud daripada perlindungan dan penjagaan dari fitnah Dajjal ialah sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

“…maka barangsiapa di antara kalian yang menjumpai Dajjal, hendaknya ia membacakan di hadapannya ayat-ayat pertama surat Al-Kahfi, karena ayat-ayat tersebut (berfungsi) sebagai penjaga kalian dari fitnahnya.”

(SHOHIH. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shohihnya bab Dzikru Dajjal, IV/2250 no.2937, dan Abu Daud II/520 no.4321, dari jalan Nawas bin Sam’an radhiyallahu anhu).
Hadits ini dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah II/123 no.582, Tahqiq Misykat Al-Mashobih III/188 no.5475, dan Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud IX/321 no.4321.


Hadits Ketiga:

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi sebagaimana diturunkannya, maka surat ini akan menjadi cahaya baginya pada hari Kiamat dari tempat tinggalnya hingga ke Mekkah. Dan barangsiapa membaca sepuluh ayat terkahir dari surat Al-Kahfi lalu Dajjal keluar (datang), maka Dajjal tidak akan membahayakannya. Dan barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan;
“SUBHAANAKALLOHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA” (artinya: Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq diibadahi selain Engkau, aku memohon ampunan dan aku bertaubat kepada-Mu), maka ia akan ditulis pada lembaran putih yang bersih, kemudian dicetak dengan alat cetak yang tidak akan robek sampai hari Kiamat.”

(Diriwayatkan oleh An-Nasa’i di dalam ‘Amal Al-Yaumi wa Al-Lailati no.81 dan 952, Ath-Thobroni di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath II/123 no.1455, dan Al-Hakim I/752 no.2072 dan beliau berkata; hadits ini Shohih sesuai dengan syarat imam Muslim, akan tetapi keduanya (maksudnya imam Bukhori dan Muslim) tidak mengeluarkannya (di dalam kitab Shohih keduanya, pent)).

DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya SHOHIH.

Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini shohih.” (lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah VI/312 no.2651).
Demikianlah beberapa hadits shohih tentang keutamaan dan keagungan surat Al-Kahfi.


Mudah-mudahan kita semua diberi kemudahan oleh Allah untuk dapat mengamalkannya dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

📝 Oleh Ustadz Muhammad Wasitho, MA  حفظه الله تعالى
🔊 [ 📖 ] BBG Al-Ilmu

********************

Bagi rekan-rekan yg ingin mencari info/jadwal kajian Islam serta beberapa materi yg insyaAllah update setiap hari. Silakan bergabung :

Info Kajian Sunnah (Ikhwan)
https://chat.whatsapp.com/DMJrGGz0QWD9wToJ8ByxEc

Info Kajian Sunnah (Akhwat)
https://chat.whatsapp.com/CO6X6vMD4lS7druESf8M0x

KEHANCURAN UMATKU

*KEHANCURAN UMATKU*


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam pernah bersabda yang diriwayatkan oleh sahabat 'Uqbah bin 'Aamir Al Juhaniy radhiyallahu anhu...

عقبة بن عامر الجهني قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : هلاك أمتي في الكتاب واللبن قالوا يا رسول الله ما الكتاب واللبن قال يتعلمون القرآن فيتأولونه على غير ما انزل الله عز و جل ويحبون اللبن فيدعون الجماعات والجمع ويبدون

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir Al Juhaniy berkata, Saya mendengar Rasulullahi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
_*"Kehancuran umatku di karenakan Al Kitab dan susu."*_

Mereka (para sahabat) bertanya,
"Wahai Rasulullaah ada apa dengan Al Kitab dan susu?"

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab,
_*"Mereka mempelajari Al Qur'an lalu menta`wil-nya dengan sesuatu yang tidak di turunkan oleh Allah 'azza wa jalla. Dan mereka memerah susu, lalu mereka meninggalkan shalat jama'ah dan jum'at, karena pergi ke desa (untuk memerah susu).”*_

```(Musnad Ahmad 4/155 No. 17451, Musnad Abu Ya’la 3/285 No. 1746, Al Ma’rifah wat Taariikh Al Fasawiy 2/293)```


Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata: "Sanadnya Hasan. Dan dihasankan juga oleh Syaikh Al Bani dalam As Silsilah Ash Shahiihah 6/277 No. 2778."

✔ Padahal al qur'an adalah hidayah, namun menjadi kebinasaan ketika difahami sembarangan..

✔ Padahal susu adalah berkah, namun menjadi kebinasaan ketika menjadikan kita lalai dari ketaatan..

Ya Allah.. _Jadikan Al Qur'an sebagai hidayah bagi kami.. Luruskan pemahaman kami.._
_Dan jangan Engkau lalaikan hati kami karena sibuk mengejar dunia.._
اللهم آمين ...



🖍Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc hafizhahullahu
http://www.salamdakwah.com/artikel/303-kehancuran-umatku
@STaushiyyah

********************

Bagi rekan-rekan yg ingin mencari info/jadwal kajian Islam serta beberapa materi yg insyaAllah update setiap hari. Silakan bergabung :

Info Kajian Sunnah (Ikhwan)
https://chat.whatsapp.com/DMJrGGz0QWD9wToJ8ByxEc

Info Kajian Sunnah (Akhwat)
https://chat.whatsapp.com/CO6X6vMD4lS7druESf8M0x

REMINDER PUASA SUNNAH AYYAMUL BIDH

📌⏰ *REMINDER PUASA SUNNAH AYYAMUL BIDH* ⏰📌


🇷 🇪 🇲 🇮 🇳 🇩 🇪 🇷

⌛ Kita disunnahkan berpuasa dalam sebulan minimal tiga kali. Dan yang lebih utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh, yaitu pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah (Qomariyah). Puasa tersebut disebut ayyamul bidh (hari putih) karena pada malam-malam tersebut bersinar bulan purnama dengan sinar rembulannya yang putih.

📮❓ *Niatnya?* Cukup di dalam hati ingin puasa ayyamul bidh.

Keutamaannya banyak, di antaranya

❶ Bekal akhirat,
❷ Seperti puasa sebulan (jika dikerjakan rutin setiap bulan, seperti puasa setahun),
❸ Lalu baik untuk kesehatan.

*Dalilnya sbb:*

🔖 Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

💎 “Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”
(HR. Bukhari no. 1979)

🔖 Dari Ibnu Milhan Al Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ

💎 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.”
(HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

إِنْ شَاءَ اللَّهُ ......

📌 Shoum Ayyaamul Bidh untuk bulan *RAJAB 1440 H* bertepatan dengan :

🗓 *Hari Rabu, 13 Rajab 1440 H*
*(20 Maret 2019 M)*
🗓 *Hari Kamis, 14 Rajab 1440 H*
*(21 Maret 2019 M)*
🗓 *Hari Jum'at,15 Rajab 1440 H*
*(22 Maret 2019 M)*

📌 Puasa Senin Kamis atau bahkan puasa Dawud bagi yang mengamalkannya, tetap memiliki fadhail di bulan *RAJAB.*

📌 Jika seseorang menggabungkan puasa Senin Kamis dengan ayyamul bidh maka hukumnya boleh, dan dia mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang di niatkannya. Karena niat dalam amal semacam ini bisa digabungkan.

📝 *Catatan :*
Puasa tiga hari setiap bulan paling utama dikerjakan pada Ayyamul Bidh, yaitu tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan Hijriyah. Dan jika tidak memungkinkan, tidak apa-apa dikerjakan di awal bulan atau di akhir bulan, boleh berurutan atau berselang.

Dari Mu’adzah Al ‘Adawiyyah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah -istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَتْ نَعَمْ. فَقُلْتُ لَهَا مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ لَمْ يَكُنْ يُبَالِى مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ

📋 “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan puasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya”. Ia pun bertanya pada ‘Aisyah, “Pada hari apa beliau berpuasa?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak memperhatikan pada hari apa beliau berpuasa dalam sebulan.” (HR. Muslim no. 1160).

📢 Sebarkan dan sampaikan, mudah2an ada seseorang yang shoum di karenakan sebab dari yang engkau sampaikan....

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

📋 "Siapa yang menunjukkan KEBAIKAN kepada orang lain, maka baginya pahala SEPERTI orang yang melakukannya". [HR. Muslim: 1893]

( Wallaahu a'lam )

📝 *Penyusun  : Abu Syamil Humaidy ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ*

♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.

•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
📮CHANNEL MULIA DENGAN SUNNAH

Maret 21, 2019

nyaris tidak ada manusia di Bumi ini yang tak berhubungan dengan riba


:: 7 DALIL NGERINYA RIBA YANG BAKAL BIKIN ANDA SUSAH TIDUR MALAM INI !! ::

Apakah Anda ada kenal dengan orang yang tengah berhubungan dengan riba? Atau, tidak berhubungan, hanya 'bersenggolan' saja? Atau, bahkan teman-teman dan saudara-saudara Anda masih banyak yang hobi bermain-main dengan riba?

Hmm... sungguh memprihatinkan memang... hari ini nyaris tidak ada manusia di Bumi ini yang tak berhubungan dengan riba. Padahal, seluruh ulama sepakat, riba itu hukumnya haram, lantaran jelas sekali tercantum di Al-Qur'an.
Hmm.. kasihan memang, harus dikasih tahu.. :( Kenapa bisa seperti itu? Bisa jadi, mereka belum banyak tahu atau lupa dengan dalil-dalil ancaman bagi pemakan riba. Tentunya, sama juga dengan  pemberi riba, pencatatnya, dan saksinya.
Nah, berikut ini adalah 7 dalil tentang ancaman riba, yang demikian mengerikan, sehingga bakalan membuat siapapun riba holic menjadi susah tidur.

1. Lebih Mengerikan daripada 36 Kali Berzina dengan Pelacur
دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً
“Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang, sementara ia tahu, lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 pelacur.”
[HR. Ahmad dan Al Baihaqi]
Apakah Anda atau kenalan Anda pernah berzina? Alhamdulillah tidak pernah, saya yakin. Jangankan berzina, niat aja pasti nggak ada.
Nah, anehnya, ada seolah-olah orang yang nggak pernah sekalipun berzina, namun mendadak tiba-tiba dia langsung '36 kali berzina'! Hiih!! Na'udzubillahimindzalik! Siapa itu? Ialah pemakan riba.
Itu pun kalau makan ribanya satu dirham, yang mana pada saat ini, satu dirham itu sekitar Rp60.000; nah, gimana kalau makan ribanya sampai Rp600.000? Apalagi Rp6.000.000?
Waduh.. nggak kebayang.. kalau orang punya dosa satu kali berzina saja sudah nunduk-nunduk jalannya, apalagi yang punya dosa ratusan kali berzina, harus gimana lagi tuh..
Namun tentunya kita sangat tidak berharap dan senantiasa berusaha mencegah agar tak terjadi satu perzinaan pun. Apalagi riba. Termasuk, Anda pun pasti tak akan mau melakoni riba, berapapun itu.
2. Seperti Menzinai Ibu Kandung Sendiri
الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ
“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. .”
[HR al-Hakim dan al-Baihaqi]
Duh, berzina saja itu sudah dosa besar, apalagi berzina dengan ibu kandung sendiri, Na'udzubillahimindzalik! Makin besar dosanya! Padahal, dosa yang besar banget itu hanyalah dosa riba yang paling ringan.
Kalau begitu, khawatirlah tak bisa masuk Surga. Katanya surga di bawah telapak kaki ibu, tapi 'ibunya sendiri dizinai'. Nggak kebayang, gile bener.. :'(
3. Hampir Seperti Mati Kafir, Masuk Neraka 'Selama-Lamanya'
وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ...
"Dan barang siapa yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni Neraka; mereka kekal di dalamnya."
[QS. al-Baqarah: 275]
MasyaAllah.. padahal, satu-satunya tipe siapa yang masuk Neraka selama-lamanya, hanyalah orang kafir saja. Kalau orang muslim, meskipun dia banyak maksiat apapun, namun ia masih punya iman; insya Allah akhirnya akan masuk Surga juga.
Namun, barangkali Anda heran.. apa mungkin ada satu maksiat yang meskipun kita muslim, namun bisa menjerumuskan kita ke Neraka selama-lamanya? Berarti, dosa riba ini memang luar biasa besar.
Bayangkan..
• Dia sudah mengerjakan sholat fardhu 5 waktu, tepat waktu terus, nggak pernah tinggal. Pun rajin pula dzikir dan do'a..
• Tapi masih mengulang-ulang mengambil riba, maka tempatnya di NERAKA, dan akan KEKAL di dalamnya..!!
• Setiap tahun tertib menjalankan puasa Ramadhan, nggak pernah bolong sama sekali.
• Tapi masih mengulang-ulang mengambil riba, maka tempatnya di NERAKA, dan akan KEKAL di dalamnya..!!
• Sudah naik haji, rajin umroh pula.. berulang-ulang naik haji, berulang-ulang umroh..
• Tapi masih mengulang-ulang mengambil riba, maka tempatnya di NERAKA, dan akan KEKAL di dalamnya..!!
Na'udzubillahimindzalik! Adakah ancaman pelanggaran syariat yang lebih mengerikan dari ayat ini?
Meski memang, ada penafsiran bahwa makna hum fiihaa khaaliduun (mereka kekal di dalamnya) itu ada 2 kemungkinan; sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah:
Kemungkinan pertama, ada jenis orang yang memang beneran masuk Neraka selama-lamanya. Benar-benar tak akan menginjakkan kaki di Surga. Yaitu, mereka yang punya keyakinan yang pasti sepasti-pastinya bahwa riba itu tidak haram sama sekali. Dia bilang, "SIAPA SIH YANG NGOMONG RIBA ITU HARAM?! HA?! NGGAK ADA ITU! BUNGA ITU BOLEH! NGGAK ADA ITU HARAM-HARAMAN!".
Kalau memang secara i'tiqadi menolak syariat yang jelas-jelas qath’iy tsubut dan qath’iy ad-dilalalah tentang keharaman riba itu, itulah yang bisa jatuh kafir, lalu abadi masuk Neraka selama-lamanya.
Kemungkinan kedua, ada jenis orang yang masih saja terus mengulang-ulang mengambil riba, tapi sebetulnya 'hati kecilnya' tak suka itu, lantaran ia paham bahwa sebetulnya memang riba itu haram hukumnya. Hanya saja dia tetap melakoni riba, dengan berbagai alasan; kepepet, terpaksa, niatnya sedekah aja, nggak apa-apa sekali-sekali, ribanya sedikit aja, dan lain sebagainya.
Nah, untuk jenis yang kedua tersebut, insyaAllah tidak akan masuk Neraka selama-lamanya. Hum fiihaa khaaliduun dimaknai mubalaghah, berarti maksudnya dia masuk Nerakanya lamaaaaa banget. Ntah berapa juta tahun.. atau ntah berapa milyar tahun.. sangat amat lama dah..
Namun, bila ia tetap punya iman bahwa riba itu haram, maka suatu ketika, dia akan diangkat dari Neraka oleh malaikat.
(Walaupun sudah gosong, hehehe....)
Lalu dicelupkan ke Sungai Surga, lalu masuk ke Surga juga akhirnya.
Kita tinggal pilih yang mana. Kalau saya sih, nggak mau dua-duanya, hehehe.
4. Mempersilahkan Allah, agar Sekampung Kena Adzab
إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ
“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.”
[HR. al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani]
Tidak heranlah apabila di Indonesia kita tercinta ini, senantiasa banyak masalah. Hidup serba susah. Susahnya bukan sekadar karena mental individunya pemalas, melainkan susahnya susah kolektif dan sistemik, lantaran adzab.
Kalau kita dapat ujian musibah, yang perlu kita lakukan adalah bersabar. Namun, kalau kita dapat adzab, yang perlu kita lakukan adalah berhenti melakoni maksiat-maksiat. Tidak bisa tidak, maksiat harus di-stop.
Karena memang telah tampak kerusakan di muka Bumi ini, adalah akibat ulah tangan kita sendiri. Maka, sengaja Allah membuat kita merasakan apa-apa kerusakan hasil perbuatan maksiat kita itu, supaya kita kembali bertaqwa kepada Allah (nggak maksiat lagi).
Sekali lagi, tidak bisa tidak; agar berbagai macam masalah di dunia ini, khususnya di Indonesia, bisa terselesaikan; kita tidak hanya harus bersabar saja sementara maksiat jalan terus, melainkan kita juga harus stop maksiat itu. Termasuk perzinaan dan riba, yang dilegalkan Undang-Undang, itu harus di-stop.
Setidaknya, salah satu caranya adalah, individu-individu diri kita sendiri jangan bertransaksi ribawi.
5. Perutnya Membesar Sebesar Rumah, Isinya Cacing dan Ular Semua
“Pada waktu aku di-isra’-kan, tatkala kami telah sampai ke langit ke-7, aku melihat ke arah atasku, ternyata aku menyaksikan kilat, petir dan badai. Lalu aku mendatangi sekelompok orang yang memiliki perut seperti rumah, di dalamnya banyak terdapat ular berbisa yang dapat terlihat dengan jelas dari luar perut mereka. Aku tanyakan, “Hai Jibril, siapa mereka?” Dia menjawab, “Mereka adalah para pemakan riba”.
*speechless* :'(
6. Menjadi Gila Seperti Kesetanan di Alam Kubur
“Pada waktu aku di-mi’raj-kan ke langit, aku memandang ke langit dunia, ternyata di sana terdapat banyak orang yang memiliki perut seperti rumah-rumah yang besar dan telah doyong perut-perut mereka. Mereka dilemparkan dan disusun secara bertumpuk di atas jalur yang dilewati oleh para pengikut Fir’aun. Mereka diberdirikan di dekat api neraka setiap pagi dan sore hari. Mereka berkata: “Wahai Rabb kami, janganlah pernah terjadi hari kiamat”. Aku tanyakan, “Hai Jibril, siapa mereka?” Jawabnya, “Mereka adalah para pemakan riba dari kalangan umatmu yang tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila”.
*speechless* :'((
7. Ngajak Perang dengan Allah dan RasulNya
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.."
[QS. al-Baqarah: 278-279]
Wah, nggak main-main nih. Tamatlah sudah kalau sampai kita perang dengan Allah. Langsung K.O. Nggak habis pikir ada orang yang berani nantangin Allah dan RasulNya untuk perang.
Wallahua'lam bishshawab..





Maret 20, 2019

Mall lippo cikarang in the night

perbelanjaan modern di Bekasi, tepatnya di Cikarang. Mal yang diresmikan pada tahun 1995 pada awalnya dikhususkan bagi penghuni perumahan Lippo Cikarang, namun dibuka untuk umum karena perkembangan ekonomi di kawasan tersebut yang relati kondusif.








https://youtu.be/vE2vt9mAjVU